[FF/OneShot/NC17/Yaoi] Fall to Pieces

Annyeong,,, akhirnya jadilah FF yg d buat dg g tdur semalem. Sebelumnya author mau minta maaf karena author gak bisa golongin rated FF ini, jadi seandainya di antara reader ad yg g suka d tengah jalan, ato merasa belum cukup umur untuk mebaca FF ini, silahkan gak usah d terusin. Mianh, n bagi yg baca sampe akhir... seperti biasa.. jgn lpa kasi koentar yak...

Title : Fall to Pieces
Length : Oneshot
Cast : SHINee Kibum (Key), Jinki (Onew), Minho



++Kibum POV++
Di sebuah bus kota yang membawaku menuju tempat yang jauh. Aku akan menyelesaikan perkara besar soal hidupku, tapi siapa sangka aku akan bertemu dengan perkara soal hati yang belum terselesaikan di perjalanan ini? Lee Jinki, my ex- Boyfriend. Semuanya terjadi begitu cepat dan aku tak kuasa mengelak lagi dari persoalan yang satu ini saat tiba-tiba saja namja manis itu duduk di sampingku setelah meletakkan tas ranselnya ke lantai. Sepertinya dia masih belum sadar ini aku karena sebagian wajahku yang tertutup oleh kacamata dan topi.

Kulihat ia asik mendengarkan sesuatu dari sebuah ipod, kado ulang tahun dariku 2 tahun silam. Antara terharu, sedih, rindu menjadi satu melihat dia juga masih mengenakan kalung yang kami beli bersama dulu. Sepasang kalung yang biasa digunakan para pasangan. Jinki ah... kau masih belum melupakanku ternyata, padahal aku yang kau cintai ini sudah begitu tega mencampakan dirimu yang terlalu baik ini.



”Mianh, Apa kau tak bisa berhenti untuk memperhatikanku?” ’deg’ jantung serasa berhenti berdetak. Dia menyadarinya. Habislah aku kali ini.

”A...ani.. aniyo...” Aku menjawab pertanyaanny dengan sedikit gugup, namun sepertinya suaraku ini begitu melekat di gendang telinganya hingga ia mampu mengenaliku setelah aku bersuara.
”Kibum ah?” Namja itu hanya berdiam diri, tapi aku yakin ini dia. ”Kibum ah, kaukah ini?”
”err.. yeah...” aku pun menanggalkan topi dan kacamataku perlahan. ”Hi!”

”Yah! Kemana saja kau selama ini? I miss you are lot you know!” pemuda bernama Jinki itu segera memeluk tubuhku erat. Dalam hati aku berteriak ’I’m blad think about you boy!’ akan tetapi kat-kata itu kutelan dalam-dalam. Aku melepaskan pelukannya dengan tatapan dingin.

”Maaf, apa kau lupa bahwa kita sudah berakhir?”

”Ya, Kibum ah.... apa masih tak bisa diperbaiki lagi? Kau harusnya tahu bahwa aku begitu mencintaimu, kau pun begitu. Jadi, tak ada alasan untuk kita berpisah bukan?”

”Love? Hahaha....” Aku tertawa keras meski dalam hati sedang terisak menangis. Aku memang pandai berbohong. ”Fuck that love!” setelah tertawa seperti orang kesetanan dalam sekejap aku berubah semakin dingin dan menatapnya tajam sebentar kemudian mengalihkan pandangan mataku pada pemandangan di luar bus. Aku tak tahan melihat mata sipitnya itu mulai dipenuhi air mata yang diam-diam ditahannya agar tak terjatuh. Dari dulu dia memang begini, lebih suka tersenyum dari pada menangis meski hatinya pedih. Dia namja yang lemah sekaligus kuat dalam waktu yang bersamaan.

”You’re not your self.” Jinki berkata lirih kali ini.

”Why bother? Stop talking for nothing ‘cause I don’t even think about that god damn shit.” Jinki terdiam mendengar kalimatku yang terkesan kasar. Aku sudah bertindak keterlaluan dan aku menyesali itu. Aku mengatur posisi dudukku dan bertanya padanya. Kali ini dengan nada perlahan seperti aku biasanya.

“Where you headed?” tanyaku kemudian.

“Ke rumah nenek. Beliau sedang sakit sekarang. Apa kau berkenan untuk turut serta denganku menjengkunya?” Miris. Hatiku begitu perih saat ini. Setelah berbagai macam kata-kata kasar yang kulontarkan padanya ia justru membalasnya dengan kalimat sopan yang lembut dan penuh kasih sayang. Aih... God, please forgive me.

”No thanks. Aku ada urusan lain. Err... permisi. Aku turun disini.” aku sudah tak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghindarinya, untuk mengingkari perasaanku sendiri yang ku sembunyikan dalam-dalam. Aku pun turun dari bus kota itu membenarkan letak kacamataku dan bergegas menuju tempat yang kutuju. Aku harus segera membereskan persoalan hidupku ini. Andai saja waktu bisa diputar kembali, aku ingin menjadi Kibum yang dulu, kibum yang hanya untuk Jinki seorang.


++End of Kibum POV++

+++++++++++++++++++++++

“Kibum berbicara sekasar itu padamu?” Minho, teman seangkatan Kibum nampak kaget mendengar cerita kakak tingkatannya mengenai kelakukan rekannya sebulan yang lalu.

”Aneh sekali bukan? Dia seperti orang lain. Dia tak mau menjelaskan alasanny berpisah denganku, kemudian menghilang selama setahun tanpa kabar. Sekarang, begitu aku bisa menemuinya ia sudah berubah menjadi orang yang tak kukenal.”

”Aish..... hyung.. jeongmal mianheyo aku tak tahu menahu kenapa dia bia jadi seperti itu. Ini perubahan yang cukup drastis. Cuma Kibum yang tau alasan kenapa dia jadi seperti ini.”

”Yah... Menurutmu apa sebaiknya yang kita lakukan?”

”Bagaimana kalau kita mencarinya. Hyung masih ingat dia turun di halte sebelah mana bukan?”

”Ne.”


Sepulang sekolah, pada siang hari yang terik, Jinki dan Minho turun di halte yang sama dengan Kibum sebulan yang lalu. Mereka bertanya ke semua orang yang ada di sana mengenai keberadaan Kibum hingga akhirnya menemukan sebuah alamat yang membuat mereka tercengang kaget. Alamat sebuah rumah sakit. Apakah Kibum mengidap penyakit yang aneh? Menular? Atau bahkan tidak bisa disembuhkan? Tanpa berpikir ulang, mereka segera menuju alamat tersebut dengan rasa ingin tahu yang semakin tinggi.

++++++++++++++++++++ ++++++

Angin sore berhembus perlahan di bawah pohon besar, Kibum duduk termenung dengan telanjang dada. Deru nafasnya terus memburu dan berhembus sangat tak teratur. Dia sedang bergelut dengan perasaan, kenyataan, dan harapan masa depan. Perlahan dia meraih celana yang berlumuran darah dan merogoh saku celana tersebut. Ia mengambil dompet kulit hitam miliknya. Ia mengigit bibir bawahnya saat menemui sebuah gambar dirinya dengan seseorang yang sangat disayanginya dalam dompet itu.


”Mianhamnida, Mianh,...hh...mianh..” kata maaf itu terus menerus terucap dari bibir manis Kibum. Batinnya berduka ‘Kenapa aku tak berani menghadapi kenyataan bagaimana pun pahitnya?’ Dia mengecup lembut gambar orang yang disayangnya itu dengan lembut, ”Jinki saranghae...”


Sementara itu Jinki dan Minho telah sampai pada alamat yang mereka dapat. Mereka berdua hanya berdiri mematung di sebuah gedung serba putih. Sesekali mereka menggosok mata mereka dan berulang kali membaca tulisan besar yang tertera disana.

“Minho ah, kau yakin Kibum ada disini? Alamat ini kau dapat bukan salah seorang pasien dari sini bukan?”

“Entahlah hyung, aku sendiri ragu, tapi jika melihat perubahan sikap Kibum selama ini, hal seperti ini mungkin saja terjadi” Minho menepuk pundak Jinki perlahan kemudian menarik lengannya memasuki gedung serba putih dengan tulisan besar-besar ’RUMAH SAKIT JIWA’. Setelah berkutat dan bertanya ke sana sini kepada perawat, dokter, dan siapa saja yang melintas, mereka menyimpulkan sebuah kenyataan yang sulit di mengerti karena terlalu mengerikan untuk namja seusia Kibum. Ibu Kibum mengalami stress berat karena terlalu mencintai anaknya sendiri. Dengan alasan demi keamanan dia mengurung Kibum di tempat ia berada. Kalau saja ia mendapati Kibum menjejakkan kakinya barang selangkah dari rumah sakit jiwa ini, ibunya akan berteriak-teriak dan mengacaukan seluruh isi rumah sakit. Mengamuk dan terus mengamuk seperti orang kesetanan. Ibunya benar-benar ‘sakit’. Ia sudah tak peduli lagi itu anaknya atau bukan. Rasa cinta yang berlebih membuatnya menjadi buta.

“Hah..”Minho menarik nafas berat setelah duduk di sebuah bangku panjang belakang rumah sakit.”Syukurlah aku tak membawa Taemin turut serta denganku hari ini.”

“Taemin? Adik kelasmu itu?”

“Ne.. dia pacarku sekarang.”

“Sejak kapan?”

“Itu tidak penting sekarang hyung. Masalah Kibum lebih serius dari yang kita kira.”

“Yah, jujur aku tak pernah menyangka ia mengalmi hidup yang seberat ini”

“Ne. Berat dan rumit. Setiap hari ia dapat cacian, makian dan siksaan dari ayahnya yang cemburu, setiap hari itu pula ia harus tersiksa dengan perlakuan ibunya yang tidak senonoh. Kalau aku jadi dia, sudah pasti aku tinggalkan ibu bejat dan mesum macam itu yang kerjanya tiap hari hanya bisa grepe-grepe anak kandungnya sendiri.”

“Masalahnya Kibum tak sepertimu, dia begitu patuh pada keluarganya. Lagi pula kalau sampai dia pergi, itu akan menyusahkan orang banyak. Harusnya kau tahu dia paling tidak suka merepotkan orang lain.”

“Ya. Karena begitu baiknya ia rela jadi korban nafsu bejat ibunya dan meninggalkanmu.”

“Yah, jadi kita harus segera menemukan Kibum dan menghiburnya. Ini masalah yang rumit. Dia pasti sudah menglami berbagai kesulitan menghadapi persoalan ini,” Jinki berdiri dari bangku panjang itu dan bersiap untuk mencari sosok seorang Kibum di seluruh penjuru rumah sakit jiwa.

”Tunggu hyung! Aku tanya padamu hyung... kau sudah mengerti kelakuan ibu Kibum seperti itu jadi sudah dapat dipastikan bahwa kesucian Kibum benar-benar patut untuk dipertanyakan. Apa kau masih bisa menerima keadaan yang seperti ini? Karena jika kau menghiburnya karena kasihan saja itu justru akan menyakitkan baginya. Yang saat ini ia butuhkan adalah cinta. ” Minho sontak berdiri untuk menahan kepergian Jinki.

”Hmph..”Jinki menahan tawanya ”Kau ini, baru baca novel? Tumben bisa berkata seperti itu.”
’Hyung aku serius.”


”Aku sayang Kibum. Aku mencintainya dan rasa ini tak akan berubah hingga kapan pun juga. Aku pastikan itu sobat.” Jinki meyakinkan Minho dengan merangkul tubuh Minho dari belakang. Minho tersenyum mendengar jawaban dari hyungnya, karena itu berarti sahabar baiknya telah menemukan namja yang tepat. Namja yang akan tetap menyayanginya apa pun yang terjadi. Akan tetapi senyum itu segera sirna saat ia melihat suatu pemandangan yang mengerikan di semak-semak dekat pohon besar tak jauh dari tempatnya berdiri. Minho segera berlari menuju semak-semak diiringi dengan Jinki.

Pemandangan yang mampu membuat mereka merasa mual dan pusing dalam waktu yang bersamaan. Sebuah mayat seorang perempuan paruh baya tanpa busana terbujur kaku dengan mata terbelalak di semak-semak itu. Ada bekas 3 tusukan yang mengenai ulu hatinya sementara di beberapa bagian tubuhnya nampak tetesan cairan kental berwarna merah dan putih. Darah dan.... Ugh. Benar-benar tak sedap di pandang. Mereka menelan ludah bersamaan. Tak jauh dari mayat perempuan itu, tepat di bawah pohon besar yang rindang, nampak sesosok namja setengah telanjang dengan tubuh penuh luka cakaran, bekas-bekas pukulan berwarna biru dan sebuah goresan besar di pergelangan tangan sebelah kirinya. Goresan yang dibuat oleh pisau yang berlumuran darah di tangan sebelah kanan namja itu telah mengenai urat nadinya. Jinki segera berlari ke arah namja yang masih terbujur lemas itu dan memeluk tubuh lemah itu erat-erat.

”Kibum ah! Kibum ah! Bangun Kibum ah!” namja yang dipanggil Kibum dengan perlahan membuka kedua matanya dan berusaha keras membelai pipi sang kekasih dengan tangan yang berlumuran darah.

”Jin...ki..Mi.i.anh...”dengan terbata-bata dan deru nafas yang semakin memburu Kibum menyampaikan kata terakhirnya,”S..Sa.rang...” mata tertutup dan tubuh tak mampu bergerak lagi. Jinki berteriak sekeras mungkin menyebut-nyebut nama Kibum seperti orang gila. Menangis, menjerit, tertawa. Menertawai nasib yang begitu lucu, yang begitu aneh, yang begitu tragis. Seorang jinki yang tak pernah meneteskan air matanya itu kini menangis sekerasmungkin bagaikan seorang anak kecil yang kehilangan ibunya.

Minho yang sedari tadi menjadi saksi memungut dompet kulit berwarna hitam yang terletak tak jauh dari Kibum kemudian mendekati Jinki. Minho terus berusaha menenangkan kawannya yang sedang terguncang itu dengan berulang kali menepuk perlahan pundak Jinki tanpa kata. Akan tetapi upaya Minho itu tiada menuai hasil. Jinki terus menangis bahkan semakin keras. Sesekali Jinki tertawa terbahak-bahak seperti orang gila saat menemukan beberapa benda kenangan mereka di kantong celana Kibum. Kalung, foto-foto mereka berdua, gantungan handphone pemberian Jinki. Jinki terus tertawa sambil menangis. Suara tangisan yang menyesakkan, tangisan yang memilukan, ... Pria yang begitu rapuh itu benar-benar tak kuasa melepas kepergian sang kekasih. Ia masih menangis sambil memeluk tubuh tak bernyawa itu dan sesekali mencium lembut bibir sang kekasih berharap sang kekasih dapat bangun seperti dalam dongeng putri salju. Kenapa semua ini harus terjadi pada kekasih yang disayanginya?

~>END