[FF/OneShot/Yaoi] Turn On
Annyeong… I’m back with my new fic. Kali ini bikin 2min nih^^ Dengan penuh rasa penasaran dengan comebacknya mereka dan rasa penuh semangat yang entah apa ini namanya tiap kali melihat hal-hal yang baru tentang SHINee, author bikin FF pada tengah malam saat hanya beberapa orang saja yang masih hidup di dorm tempat author sementara menyepi. Ok, at least, have a nice read and don’t forget to leave some comments for me!^^
Title : Turn On
Length : Oneshot
Cast : SHINee
All this fiction is Taemin’s POV
SHINee... Setelah melewati banyak penundaan, akhirnya foto teaser sudah dirilis. Semua SHINee World tentu senang dan bahagia. Aku sendiri juga sudah rindu untuk berdiri di atas panggung yang besar. Akan tapi apa jadinya jika pada hari yang sama saat foto teaser Minho hyung dirilis, Minho hyung justru harus berbaring lemah di ruang gawat darurat sebuah rumah sakit? Dan apa jadinya jika saat Minho hyung sedang lemah, kami justru tak berada disisinya? Kami terpaksa, karena kami harus tetap menjalani latihan untuk album baru kami. Hyung… Hope you get well soon, I miss you.
“Yah! Hyung! Lagi-lagi kau melakukan kesalahan pada gerakan yang sama! Apa kau tak bisa melakukannya dengan baik? Setiap konser selalu saja kau yang buat kesalahan. Kau ini leader bukan?” mataku tertuju pada Kibum hyung yang tiba-tiba saja berteriak keras kepada Jinki hyung saat Jonghyun hyung sedang mengambilkan air mineral untuk kami. Ini tidak biasa. Meski Kibum hyung memanglah orang yang cerewet, tapi ini pertama kalinya dia membentak kepada orang yang lebih tua darinya.
“Hyung… Jangan bersikap kasar seperti itu…” dengan sedikit keraguan aku menegur Kibum hyung.
“Yah! Tapi memang begitu bukan? Apa selama ini kau tak pernah berpikir begitu? Pasti iya bukan? Makian kedua keluar dengan mulusnya dari bibir itu dan Jinki hyung masih diam menunduk menatap lantai dengan pandangan kelelahan.
“Hyung! Bagaimanapun juga dia tetap leader kita hyung!”
“Leader? Apa yang seperti ini pantas disebut begitu? Menurutku dia sama sekali tidak pantas sebagai seorang leader.” Kali ini Kibum hyung mendorong tubuh Jinki hyung kebelakang hingga terjatuh ke lantai.
“Hyung!” Aku berteriak sekeras mungkin dan berlari ke arah Jinki hyung yang terjatuh tak berdaya. Aku merangkul tubuh leader itu sementara orang yang telah mendorongnya memukul keras pintu dengan lengannya kemudian keluar dari ruang latihan. Dengan suara bergetar dan menahan air mata aku bicara perlahan, “hyung, kenapa jadi begini?” Jinki hyung diam. Ia hanya mengelus rambutku yang mulai panjang ini perlahan dengan lembutnya.
“Ada apa ini? Mana Kibum?” Jonghyun hyung yang baru dating membawa beberapa botol minuman mineral d pelukannya bertanya. Aku bingung harus jawab apa. Pertengkaran suami istrikah?
“Err… Kenapa kau lama sekali hyung?” akhirnya jawaban yang merupakan setengah pertanyaan inilah yang kupilih.
“Kau ini, ditanya justru balik tanya, tapi Hah~” Jonghyun hyung menghela nafas berat sambil menaruh botolan air mineral itu di dekat kami dan ikut duduk di lantai yang dingin ini. “Aku, tadi di tengah jalan diajak bicara dengan manajer hyung. Dia bilang suaraku jelek sekali pada rekaman kemarin dan menyuruhku banyak latihan. Jadi, kemungkinan besar aku akan sibuk latihan vocal mulai besok.”
“Jelek? Menurutku tak begitu. Suara hyung hebat seperti biasanya.”
“Taemin ah… Hyung-nim lebih mengerti soal dunia musik. Barang kali saja dia benar. Kurasa tak ada salahnya Jonghyun terus berlatih. Yah, sama sepertiku yang masih perlu banyak latihan ini. Kurasa mulai besok aku akan pulang dan latihan dengan tenang di rumah.” Jinki hyung berkata lembut sambil tetap mengelus rambutku. Aku tak bisa membantah, tapi aku yakin betul ini petanda buruk.
++++++++++++++++++++++++
Pagi yang cerah di apartemen yang sepi. Mungkin diluar sana para shawol sedang heboh kegirangan melihat foto teaserku yang telah dirilis dari ini, tapi di apartemen SHINee Yang terdengar hanyalah siulan Kibum hyung yang sedang membuat sarapan di dapur.
“Hyung, ini terlalu banyak, hanya ada kita berdua disini.” Aku berkomentar saat semua makanan sudah selesai dihisangkan di meja makan. Kulihat perubahan mimik Kibum hyung dia menatap lemah makanan yang ia buat untuk lima orang itu. Aku prihatin sekali melihatnya, tapi sesaat kemudian ia kembali coba tuk tersenyum sambil mengelus rambut panjangku.
“Makanlah yang banyak Taeminnie, ini semua untukmu. Kau sedang dalam masa pertumbuhan bukan?”
“Hyung, aku tak akan bisa menghabiskan semuanya.”
“Yah, nanti kalau ada sisa kuberikan ke tetangga.” Aku diam dan mulai memakan masakan yang terasa aneh itu. Terlalu asin, tapi aku tetap memakannya dengan lahap demi menjaga perasaan hyungku yang satu ini. Dia memang cerewet, tapi itu demi kebaikan semuanya karena dia selalu memperhatikan kami semua. Aku yakin yang kemarin itu juga demi Jinki hyung. Aish, Minho hyung… tiba-tiba saja aku memikirkan keadaannya. Hyung, aku merindukanmu. Aku ingin kau bilang aku cantik sekali lagi seperti saat pemotretan foto album baru kita.
+++++++++++++++++++++++++
Hari kedua semenjak kepergian Jinki dan Jonghyun hyung. Hari dimana teaser Jinki hyung dikeluarkan. Jinki hyung, leader yang selalu tersenyum ala dubunya itu, aku rindu. Aku tak tahu harus berbuat apa selain menghabiskan waktu dengan berlatih dance bersama Kibum hyung. Akan tetapi aku merasa sendirian. Kibum hyung tak banyak bicara seperti biasanya. Dia hanya diam dan berlatih seperti mesin. Minho hyung, aku kesepian....
+++++++++++++++++++++++++
Hari ketiga, hari dimana foto teaser Jonghyun hyung. Hyung yang terkedang menyebalkan itu... saat jauh darinya entah kenapa aku merindukannya. Suaranya membuatku rindu. Akan tetapi aku harus tetap jalani rutinitasku seperti biasanya, latihan dance bersama Kibum hyung yang nampak seperti mesin yang terus bekerja tanpa mempedulikanku itu.
Malam hari sepulang dari tempat latihan. Hanya aku seorang disini, karena Kibum hyung pergi belanja seusai latihan tadi. Aku merebahkan tubuhku di sofa ruang tengah setelah menyalakan tv. Meski aku mampu tertawa bersama Kibum hyung saat latihan tadi, tetap saja ada yang kurang. Aku tak bisa berhenti memikirkan Minho hyung, Jinki hyung, dan Jonghyun hyung.
Aku menggeser posisi tubuhku di sofa yang kecil ini. Entah kenapa ruangan ini terasa begitu sempit. Aku susah bernafas disini. Mungkin karena ada yang hilang, tapi apa? Rasanya sesuatu dalam hatiku hilang. Kosong. Berat. Gelap.
+++++++++++++++++++++++++++
Samar-samar ku dengar bunyi burung berkicau. Sepertinya hari telah berganti dan hari ini adalah hari keluarnya teaser Kibum hyung yang aku jamin paling menghebohkan SHINee World. Aku membuka mataku perlahan. Aneh. Aku ada di kamar. Siapa yang telah membawaku kemari? Kibum hyung kah? Dimana dia sekarang? Aku perlahan membuka pintu kamar dan menuju dapur untuk mencari Kibum hyung, tapi aku mendapati sebuah kegaduhan di meja makan dan melihat beberapa wajah yang begitu kurindukan sedang tertawa dan bercanda ria bersama. Jinki hyung, Jonghyun hyung , dan…. Aku berlari ke tubuh pemuda itu dan memeluknya erat-erat.
“Minho hyung!!! Hyung sudah sembuh?”
“Ne.” Minho hyung tersenyum lembut padaku sambil melepas pelukanku. “tapi kalau kau memeluk begitu keras kurasa aku akan masuk rumah sakit lagi karena sakit pinggang.”
“Ah mianheyo hyung. Aku hanya terlalu kangen.”
“Kau cuma kangen pada Minho? Kita bagaimana?” Jonghyun hyung yang duduk di sebelah Jonghyun hyung coba menyindirku. Jinki hyung mengangguk menyetujui pertanyaan itu.
“Aniyo hyung, aku juga kangen kalian.” Dari Minho hyung, aku beralih memeluk Jonghyun dan Jinki hyung bergantian.
“Yah, kau sudah bangun rupanya. Kalau begitu ayo segera kita mulai pestanya.” Kibum hyung keluar dari dapur sambil membawa kue tart besar di tangannya.
“Pesta? Apa?” aku memasang tampang bingungku dengan teramat jelas.
“Pesta sembuhnya Minho dan ulang tahunmu, karena kita tak mungkin bisa merayakanny besok. Kita pasti akan sangat sibuk.” Jawab Kibum hyung. Dia benar-benar kembali seperti eumma yang biasanya. Aku tersenyum lebar-lebar dan kami pun memulai pesta yang meriah ini.
“Hyung, kau sudah tak marah lagi pada Jinki hyung?” aku bertanya dengan takut-takut sambil melihat malu-malu Jinki hyung dan Kibum hyung yang sedang saling menyuapi dengan mesranya.
“Marah? Kapan aku marah pada leader kita ini?”
“Ta…tapi waktu latihan itu…”
”Hm? Yang mana ya?” Kibum hyung pasang tampang cuek seolah tak bersalah.
”Itu hanya sandiwara Taemin ah~! Kami ingin menjauhimu beberapa waktu lalu memberimu kejutan seperti ini.” Jinki hyung tersenyum manis padaku
”Sandiwara? Aku tak merasa amarah Kibum hyung itu seperti bohongan.”
”Yah! Itu karna tampangku mendukung? Kau lihat kan betapa sangarnya penampilanku untuk album kedua kita ini?” Kibum hyung menjawab sambil siap menyuapi Jinki hyung yang memejamkan matanya sambil membuka lebar-lebar mulutnya untuk mendapatkan suapan penuh cinta dari kekasihnya.
”Ooo...” Aku membuat bulatan kecil dengan bibir kecilku.
”Yah! Taemin ah, aku juga sandiwara. Aku tak ada perintah untuk latihan vokal.”
”Jinja?”
”Ne. Suaraku kan sudah begitu baik tak seperti seseorang yang sering terkapar di rumah sakit itu.” ’Bletak’ ”Auww” kalimat pedas dari Jonghyun hyung itu diakhiri dengan teriakan kesakitan karena kepalanya terhantam mangkok kosong dari Minho hyung.
”Shut up! What the hells the matter with you today. You talk too much.”
Dengan nilai bahasa Inggrisku yang mengerikan aku tak dapat seutuhnya mengerti apa yang dibicarakan Minho hyung , tapi dari intonasi yang sedikit meninggi itu kurasa ia sedang kesal dengan ucapan Jonghyun hyung barusan.
“Hyung…” aku memegang tangan yang tadi digunakan untuk memukul Jonghyun hyung dengan lembut dan menatap mata hyung kesayanganku itu. Aku ingin menyampaikan bahwa aku tak setuju dengan caranya yang kasar itu. Seolah mengerti arti tatapanku, Minho hyung membelai rambut panjangku lembut.
“Forgive me Taeminnie ah~ I’ll not do that again.” Dia tersenyum manis dan penuh kehangatan. Yah, meski sekali lagi aku tak dapat mengartikan bahasanya. Akhir-akhir ini Minho hyung memang sering memakai bahasa yang tak jelas seperti Kibum hyung, katanya sih untuk meningkatkan kualitas rapnya. “Don’t you want more party?” ‘blush’ wajahku langsung memanas dan kurasa pasti berwarna sangat merah saat Minho hyung membisikan kalimat barusan. Yah, meski sekali lagi aku tak mengerti maksutnya, tapi aku sudah cukup di buat melayang dengan suara rendah yang begitu dekat dengan telingaku yang sensitive ini. “Taeminnieah~! Bagaimana? Hm???” dia masih berbisik dekat telingaku. Aku benar-benar salah tingkah kali ini. Aku tak mengerti harus menjawab apa karma sekali lagi aku tegaskan, aku tak benar-benar mengerti apa yang ia maksut. Akan tetapi, entah kenapa aku mengangguk cepat. Ya. Itu jawaban yang kutemukan setelah aku bingung mencari jawaban yang tepat untuk Minho hyung. Senyuman di wajah Minho hyung mengembang semakin lebar, sepertinya aku memberi jawaban yang tepat.”If that so? Then, let’s do it.” Lagi-lagi aku dibuat kaget oleh Minho hyung. Dia yang baru sembuh dari cederanya itu segera menggendong tubuh mungilku dan membawaku bak puteri di cerita dongeng menuju kamar. Selama aku dalam gendongan Minho hyung menuju kamar, kulihat Kibum hyung berdiri dan memukul keras meja makan sambil berteriak dengan sangat keras. “That can’t go on!” Aku tak mengerti jelas apa artinya, tapi tampak jelas matanya dipenuhi amarah dan rasa tidak rela, apa lagi ia tampak semakin menakutkan dengan penampilan barunya yang seram itu.
Jinki hyung yang berada disisinya pun coba menenangkan amarahnya sementara Jonghyun hyung tetap melanjutkan acara makan-makan dengan santainya tak mempedulikan keadaan Kibum hyung yang memanas. Kemudian aku? Aku kini telah benar-benar masuk ke dalam kamar. Minho hyung merebahkanku ke tempat tidurnya yang berada di bawah kemudian pergi untuk mengunci pintu kamar.
”Hyung, kau mau apa?” dengan rasa penasaran yang tinggi yang bercampur dengan sedikit rasa takut aku memberanikan diri untuk bertanya. Minho hyung tak segera menjawab, dia hanya memandang penuh arti padaku dan mendekatkan tubuhnya padaku yang masih terbaring tak mengerti di ranjangnya.
”Taemin ah...” lagi-lagi dia berbisik di telingaku. Itu membuatku geli dan malu dalam waktu yang sama. ”Seperti yang Kibum bilang tadi, pesta ulang tahunmu dipercepat karna kita akan sibuk setelah ini, dan kurasa kado ulang tahun dariku juga harus kuserahkan lebih cepat.”
”Waeyo?” aku mendorong tubuh Minho hyung sedikit lebih jauh karna aku mulai merasa tidak nyaman dan makin salah tingkah. ”Kalau kado kan kapan-kapan bisa.”
”Ani.” Minho hyung dengan sedikit memaksa mendekatkan tubuhnya padaku lagi dan perlahan mulai menindihku. Kali ini aku tak bisa mendorongnya lagi. Antara tak mampu, dan tak mau. Aneh sekali rasanya. ”Mianh Taeminnie ah~” tatapan Minho hyung kembali melunak. ”Ini karena aku yang sudah tak sabar lagi untuk menyerahkannya padamu.” Minho hyung mengecup dahiku perlahan dan kemudian berlanjut ke pipi.
”Hyung???” aku masih belum begitu mengerti apa maksut semua sikap Minho hyung ini.
”Jeongmal sarangheyo Taeminnie ah...” Minho hyung tak membiarkanku untuk memikirkan kalimat terakhirnya. Dia segera membuatku tak bisa berpikir dan membuat kepalaku serasa berputar saat dia mulai melumat bibirku. Aku tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, tapi aku rasa ini indah dan aku akan menikmatinya karena Minho hyung selalu memperlakukanku dengan baik.^^
+++++++++++++++++++++++ END ++++++++++++++++++++++





0 komentar:
Posting Komentar