[FF/Yaoi/Love Pain/Chap 3/END]

 Annyeong, Hahay, saya langsung poting lanjutan FF yg kemarin nih…And, It's the last Chap!!!  Buat yg belom baca Chapter pertamanya, lian kasih linknya j y

Love Pain Chap 1
Love Pain Chap 2

At least, hace a nice read and don't forget to leave me some comments ^^

Title : Love Pain Chap 3/END
Author : Lian1412
Length : Oneshot
Cast : SHINee Minho, Kibum(Key), Taemin, Jinki (Onew), Jonghyun

All This Fic is Minho POV


Sabtu sore 2hari setelah aku dan Kibum memutuskan untuk pergi ke desa tempat tinggalku dulu aku dan Kibum pun berangkat. Kini tepat di depan sebuah rumah sederhana berpagar biru aku diam terpaku. Rumah kediaman Lee sudah lama tak dihuni. Tetangga bilang mereka pergi entah kemana. Benar-benar sebuah kedatangan yang sia-sia. Pantas saja selama ini suratku tak pernah mendapat balasan, surat-surat yang kukirim hanya memenuhi kotak surat yang ada di depan rumahnya. Karena sudah terlanjur datang di desa kecil itu, aku dan Kibum memutuskan untuk berkeliling desa dan singgah semalam di rumah kakak tingkatku dulu Jonghyun.


”Minho ah, sampai kapan kau akan berjemur di bawah gelapnya langit malam seperti ini? Ini sudah lewat tengah malam. Kau bisa masuk angin pabo!” aku kaget saat Kibum tiba-tiba saja menyusulku yang sedang berbaring di atap rumah Jonghyun hyung sambil melempar sebuah jaket tebal ke arahku.
”Haha... aku sedang nostalgia mengenang masa lalu, kau mau ikut?” Aku menepuk tempat kosong disisiku, Kibum hanya berdesis perlahan kemudian mencibirku.
”Pabo! Aku tak suka mengundang penyakit sepertimu! Aku hanya tak ingin kau sakit. Pakai jaket itu! Kalau terasa kantuk cepat turun! Jangan tidur disini! Segera susul aku di kamar kalau kau sudah puas dengan nostalgiamu ini atau kau tak akan dapat bantal. Mengerti?”
”Haha.. seperti biasa kau bawel seperti ayahku.”
”Yah! Ini juga demi kebaikan dirimu sendiri Minho ah!”
”Ne.. ne...cepat tidur sana!” suasana kembali hening setelah Kibum turun. Aku pun kembali pada posisiku berbaring memadangi bintang-bintang yang terus bersinar tiada henti di langit. Beberapa saat kemudian aku melihat bintang jatuh. Aku teringat kata-kata Taemin dulu. Dia selalu menantikan bintang jatuh tiap malam untuk membuat permohonan. Katanya bintang jatuh mampu mengabulkan permohonan jika kita segera memejamkan mata danmengucapkan harapan dengan setulus hati setelah melihatnya. Aku pun memejamkan mataku dan berharap. Andai saja Taemin ada disini saat ini. Andai saja Taemin tetap berada disisiku
”Hyung...” Tiba-tiba aku merasa aneh. Samar-samar aku mendengar suara Taeminku disisiku. ”Minho hyung ah...” aku benar-benar merasakan ini nyata. Aku membuka mataku dan melihatnya sudah duduk sambil tersenyum riang disisiku. It’s a miracle.
”Taemin ah!” Aku bangkit dan menatapnya lekat-lekat. It’s real.
”Akhirnya hyung kembali kemari.” Dia memeluk tubuhku dan aku balas memeluknya. Taemin ah, kau tahu aku sama sekali tak bermaksut meninggalkanmu.
”Ne. Aku tahu itu hyung.”
”Aish, Taemin ah, badanmu dingin sekali. Pakailah jaket ini.” aku melapas jaketku dan menyerahkannya padanya. Dia hanya tersenyum manis menerima jaket itu.
”Hyung... harusnya kau membawaku turut serta ke Seoul. Aku tak bisa jika tak ada hyung.”
”Ne. Aku pasti akan membawamu dan tak akan melepaskanmu lagi. Aku akan bicara baik-baik pada Jinki hyung besok pagi.”
”Jinja?”
”Ne. Aku juga akan jelaskan kepada semuanya tentang hubungan kita jika perlu. Kita akan belajar di satu sekolah yang sama lagi dan aku tak akan ingkar janji lagi karena aku begitu menderita jauh darimu.” aku melihat wajah yang kurindukan itu bersemu merah.
”Jinja?”
”Ne.” aku memeluk tubuhnya lagi. Memeluknya dalam-dalam. Saat aku melonggarkan pelukan, saat itu aku mengecup dahinya.
”Hyung..saranghamnida” kata-kata jujur tanpa kebohongan meluncur begitu saja di bibir mungil itu.
”Nado.” perlahan kudekatkan wajahku ke wajahnya. Semakin dekat hingga aku dapat merasakan hembusan nafasnya yang hangat dan bibirku mampu mengecup bibir mungilnya yang manis.
”Hyung , lihatlah! Fajar sudah tiba. Indah sekali bukan?” Taemin menunjuk ke arah Timur setelah bibir kami terlepas. Fajar yang begitu cantik. Matahari perlahan menyingsing dan menyinarkan cahayanya yang menyilaukan.


”Cantik.” aku bergumam lirih dan menoleh ke arah dimana Taemin harusnya berada. Akan tetapi yang kudapati hanyalah jaketku yang tergeletak begitu saja. Apakah Taemin sudah turun lebih dahulu? Aku bergegas turun dan masuk ke dalam rumah.
”Taemin ah! Taemin ah!” aku terus berteriak sambil mencari sosok Taemin. Sungguh, aku masih belum selesai melepaskan rindu ini.
”Yah! Minho ah! Kau berisik sekali!” Kibum yang sedang menggosok giginya masih sempat memarahiku.
 ”Taemin! Bukannya Taemin masuk kemari? Kau tak melihatnya?”
”Taemin? Aniyo. Mana aku tahu. Aku baru bangun tidur pabo!”
”Taemin?” Jonghyun hyung tiba-tiba saja muncul di belakangku. " Kau yakin ?"
"Tentu saja ! Kami menghabiskan waktu berdua semalaman di atap."
" Jinja ? " Jonghyun hyung mengrenyitkan dahinya.
"Ne. "
"Hm… Kau benar-benar ingin bertemu dengannya? Cepatlah mandi ! Aku akan mengantarmu ke tempat Taemin.” Jonghyun hyung berkata penuh makna. Aku semakin tak mengerti. Bukankah baru saja Taemin ada disisiku? Aku hanya mengikuti perkataannya segera mandi dan bersiap untuk pergi.
+++++++++++++++++++++++++++++
Hamparan tanah yang luas dengan burung-burung hitam yang berterbangan di atasnya. Aku tak mengerti kenapa Jonghyun hyung membawa aku dan Kibum ke tempat ini. Tempat yang membuatku merasa merinding dengan hembusan anginnya yang kencang. Dari kejauhan aku melihat seseorang sedang berdiri lemah membawa sebuket bunga mawar. Jinki hyung. Aku segera berlari mendekatinya.
”Hyung! Kau ada disini? Kemarin aku ke tempatmu kau tak ada.”
”Ne. Aku pindah rumah.”
”Pindah? Kemana? Lalu, mana Taemin? Dia juga pindah bersamamu?”
”Ne. Aku pindah ke kota yang sama denganmu, Seoul, tapi Taemin pergi ke tempat yang lebih jauh dariku.”
”Lebih jauh?”
”Minho ah, mianhamnida harusnya aku tak memaksamu untuk menjauhi adikku saat itu.” aku bingung, Jinki hyung tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya membungkuk minta maaf.
”Hyung, kenapa? Ada apa?”
”Aish!” sementara aku bertanya-tanya kebingungan, Key yang berada di sebelahku memasang ekspresi yang sulit di jelaskan. Dia sedikit melompat ke belakang dan menutup bibirnya dengan tangan kiri. Aku pikir dia sedang terkagum-kagum dengan Jinki hyung, namun pemikiranku itu segera berubah saat kulihat tangan kanannya menunjuk ke arah sebelah Jinki hyung. Sebuah makam yang bertuliskan nama Lee Taemin.
”Tunggu dulu. Taemin? Yah! Siapa orang gila yang membuat makam untuk orang yang belum meninggal seperti ini?” jinki hyung menunduk sementara Jonghyun menepuk pundakku perlahan dan berbisik.
”Itu Taemin. Lee Taemin. Orang yang paling kau cintai.”
”Taemin? Tapi dia bersamaku semalam. Bagaimana bisa tiba-tiba dia meninggal dan dikuburkan disini? Ini konyol!” aku semakin kebingungan dengan semua yang ada. Bagaimana bisa? Aku terus bertanya-tanya dalam hati.
”Aku tak tahu bagaimana bisa Taemin bersamamu semalam, tapi dia sudah lama meninggal sejak kepergianmu Minho ah!” Jonghyun hyung berkata dengan suara yang sedikit meninggi untuk membuatku yakin. Akan tetapi aku masih belum bisa menerima penjelasannya.
”Minho ah, Taemin seperti ini semuanya salahku. Harusnya saat itu aku tak membuatmu pergi meninggalkan desa ini. Semua yang ada di sekolah menyalahkan Taemin atas kepergianmu dan semakin menjadi-jadi. Mereka menindas Taemin lebih dari sebelumnya. Sementara Taemin yang sangat merindukanmu akhirnya memutuskan bunuh diri karena tidak tahan dengan semua siksaan yang ada.”
”Bulshit! Kau bohong padaku hyung!”
”Aniyo... ini kenyataannya Minho ah... kau harus menerimanya.” seluruh tubuhku terasa lemas seketika. Pertahanan diriku runtuh. Aku terjatuh berlutut. Selama ini aku mengambil keputusan yang salahkah? Taemin... semalam... itu hanya ilusiku? Dalam kegalauan hati aku merasa sesuatu yang hangat menyelimuti punggungku.
”Hyuuung...” suara manja yang khas. Bahkan dalam kondisi memilukan seperti ini aku masih sempat berilusi? Aku menengok ke belakang, ke arah pemilik suara itu.
”Haha.. sepertinya aku sudah gila. Gila karena terlalu mencintaimu Taemin ah. Bayanganmu selalu saja muncul menghantuiku.”
”kekekeke~” Jonghyun hyung, Jinki hyung, bahkan Kibum tertawa dengan kerasnya membuatku kebingungan. Taemin pun juga turut tertawa. Sejak kapan bayangan bisa tertawa hingga kesakitan memegangi perutnya?
”Pabo!” mereka berempat berteriak keras mengataiku pabo. Aku mendekati Taemin dan mencubit pipinya untuk memastikan kenyataan.
”Auh. Hyung sakit!” Taemin berteriak keras.
”Asli! Ini kenyataan!” aku memeluk tubuhnya erat-erat untuk meyakinkan diriku sendiri dan tertawa kegirangan.
”Hyung sesak! Lepas!!!”
”Aish, mianh.” aku dengan cepat melepas pelukanku dan melihat ke arah 3orang yang sedari tadi masih menertawakan diriku. ”Kaliaaaan!!! Sejak kapan kalian merencanakan hal konyol seperti ini huh?” aku bertanya geram.
”Hehe.. siapa suruh selama di rumah Jonghyun hyung kau hanya melamun di atap? Kekekeke...” Kibum mengejekku.
”Sial. Kau benar-benar teman yang tak baik.” Aku berlari ke arah Kibum dan siap mendaratkan pukulanku, namun langkahku terhenti saat Jinki hyung menghalangiku.

”Mianh Minho ah...” dia tersenyum tanpa dosa seperti biasanya. Aku tak peduli dan berusaha tetap melangkah maju. Akan tetapi dengan Jinki hyung mampu kembali menghentikan langkahku dengan kata-katanya “Jangan ganggu dia atau...” dia tersenyum penuh arti sementara Kibum merangkulnya dengan mesra dari belakang masih dengan wajah tanpa dosanya. Sial. Sepertinya hyung satu ini sudah terkena pengaruh buruk Kibum. Aku hanya tersenyum kecut kemudian mengalihkan perhatianku ke arah Jonghyun hyung.
“Hyuuuungg!!!” Aku berlari kearahnya, namun dia sudah bersiap berlari lebih awal dariku. Yah, akhirnya aku terus mengejar Jonghyun hyung hingga dapat dan melampiaskan kekesalanku padanya. Aku menangkapnya dan mengikat tubuhnya pada sebuah pohon.
“Hyung, sudahlah hentikan. Kasihan jonghyun hyung.” Taemin menahan lenganku saat aku hendak mengeluarkan pukulan andalanku.
”Kau! Sepertinya kau juga harus mendapat hukuman Taemin ah...” aku tersenyum licik.
”Mwo? Aku...”
”Kau jadi pindah ke Seoul bukan?”
”err... ne.”
”Bagus. Kalau begitu aku akan lebih leluasa menghukummu.”
”Hyuuuungg...” Taemin memelas.
”Taemin ah, kau harus mendengarkan perkataan hyung mu ini!”
”N..ne.”
”Kau harus berjanji tak akan menyembunyikan apa pun dariku!”
”N..ne.”
”Kau tak akan pernah pergi jauh dariku!”
”N.. tunggu dulu hyung, kalau aku mau ke kamar mandi bagaimana? Harus bersama hyung juga? Tidur, makan, ganti pakaian dan sebagainya?”
”Begitu juga boleh.”
”Hyung, itu memalukan.” Taemin menutupi wajahnya yang memerah membayangkan apa yang akan terjadi kelak.
”Aniyo...karena inilah hukumanmu. Taeminnie ah... mendekatlah kemari, kau harus mendapatkan hukuman pertamamu.”
”Hyuuuuunggg” meski dengan tampang memelas, Taemin tetap berjalan mendekat dengan langkah takut-takut. Setelah kurasa jarak d antara kami cukup dekat, tanpa sungkan-sungkan lagi aku menarik bajunya dan melumat bibir manisnya itu tanpa menghiraukan Jonghyun hyung yang masih terikat di pohon. Bibirnya benar-benar membuatku kecanduan. Hembusan nafas yang begitu hangat, bibir mungil yang manis, aku ingin menumpahkan segala kerinduanku selama ini padanya. Yah, tapi perlahan saja... masih banyak waktu untuk bersamanya setelah ini... Taemin, bersiaplah...

-THE END-