[FF/Yaoi/Say 'Sorry'/Oneshot]
Annyeong, saya kembali dengan FF Onkey yg d request am Dea Adhitya... Sekalian mau ngucapin selamet buat SHINee yg berhasil dapet MusicBank award hari nie^^ Congrats Boys, ^^ Shawol proud of you~<3
At least, hace a nice read and don't forget to leave me some comments ^^
Title : Say 'Sorry'
Author : Lian1412
Length : Oneshot
Cast : SHINee Minho, Kibum(Key), Jinki (Onew)
++Kibum POV++
Perlahan aku membuka kedua mataku di malam yang larut ini. Aku tidak bisa tidur karna terus memikirkan kejadian kemarin. Meski kusadari ini semua salahku, tapi aku tak tahu harus berbuat apa saat ini. Semua terjadi karna ulahku, kebodohanku, sikapku, egoku, dan karna perkataanku yang tajam dtelah melukai perasaanmu. Bahkan aku sempat membuatmu menitikkan air matamu itu.
Aku menyalakan lampu dan membuka buku cerita yang kau berikan padaku saat natal tahun lalu sambil duduk di ranjangku. Aku terus membaca halaman yang sama selama satu jam sambil sesekali memandangan meja kecil yang terletak tak jauh dari ranjang tempatku berada. Menanti ponsel yang terletak di atasnya berdering dan menampilkan namamu seperti malam-malam sebelumnya. Aku terus memikirkanmu, tapi aku tak tahu harus berbuat apa agar hubungan kita membaik.
"Kibum ah, kau belum tidur?" Choi Minho, teman sekamarku di asrama sekaligus teman sekelasku yang tidur di ranjang atas menjulurkan kepalanya untuk melongok ke arah tempat tidurku. "Kau tahu, ranjang kita ini sedari tadi terus berdecit karna kau banyak bergerak sedari tadi."
"Aish, mi.. mianh Minho ah.." Minho mengrenyitkan dahinya mendengar jawaban dariku. Ia pun turun dari ranjangnya dan duduk pada ranjang dengan bedcover berwarna pink milikku.
"Ada yang aneh dengan dirimu."
"Maksutmu?"
"Tak biasanya kau minta maaf dan menyadari kesalahanmu padaku. Kau ada masalah? Ceritakanlah!"
"Aniyo... aku hanya sedikit berfikir jika semuanya berakhir." Lagi-lagi Minho mengrenyitkan dahinya setelah mendengar jawabanku.
"Maksutmu, tentang kau dan Jinki hyung?"
"Yeah..."
"Kalau boleh berpendapat, menurutku ini semua karna kau terlalu memikirkan dirimu sendiri."
"Mwo? Ani..."
"Tunggu dulu Kibum ah, aku belum selesai bicara. Aku tahu betul kau perhatian pada semua orang, hingga tanpa sadar kau mengurusi hidup orang lain. Semuanya harus sesuai kehendakmu. Cara berpakaian, cara berjalan, tingkah laku. Kau memang kekasihnya, tapi kau tak punya hak sepenuhnya untuk mengatur hidupnya. Kadang orang punya alasan masing-masing dalam melakukan suatu hal. Tidakkah terfikir olehmu untuk menanyakan pendapatnya? Seperti halnya saat ini, tidakkah terfikir olehmu untuk meminta maaf lebih dahulu padanya? Jelas-jelas kau sadari kau yang bersalah padanya." Untuk pertama kalinya aku terdiam mendengar perkataan Minho. Semuanya kena telak. Aku memang orang yang egois dengan mulut tajam yang menusuk. Aku memandang ponselku sejenak kemudian menghela nafas panjang.
"Kurasa kau benar, egoku terlalu tinggi padahal aku hanyalah seorang pecundang yang takut menyampaikan kata ‘maaf’ dengan baik.” Mendengar kata-kata dariku, Minho menepuk pundakku.
“Yeah, kau butuh waktu untuk itu. Hem, Kibum ah, aku mau keluar beli minuman kaleng di mesin penjual otomatis yang baru dipasang di ujung lorong. Mau kubelikan sesuatu untuk diminum?”
“Hem, Aniyo.” Minho pun bangkit dari ranjangku dan berjalan menuju kea rah pintu. Akan tetapi sesaat setelah ia membuka pintu ia bersua.
“Hyung, kenapa sedari tadi mondar mandir di depan kamarku?” Aku segera berlari mendekati Minho. Tepat seperti dugaanku, orang yang disapa Minho di depan kamar kami adalah Jinki, kekasih sekaligus kakak kelasku.
“Er… em.. Aku ingin bicara sebentar dengan Kibum.”
“Ooh, masuklah. Kalau begitu aku belikan hyung minuman sekalian. Kibum ah, hyung, aku pergi dulu.” Minho pun berlalu untuk membeli minuman kaleng dan Jinki masuk ke dalam kamar. Aku menutup pintu kamar perlahan kemudian mempersilahkan Jinki duduk di kursi belajar Minho sementara aku duduk di kursi belajarku sendiri setelah menariknya agar lebih dekat dengan kursi belajar Minho.
“Ada apa Hyung?” Aku sedikit member tekanan intonasi pada kata ‘hyung’ yang kuucapkan karena aku memang tidak terbiasa, tapi aku harus mengucapkannya. Saat ini aku tidak yakin hubungan kami dekat hingga aku bias seenaknya lancang menyebut namanya.
“Hyung? Kau panggil aku hyung? Kau masih marah padaku?” Aku diam. Aku bingung harus berkata apa. Jelas-jelas aku yang bersalah, bagaimana bisa aku marah padanya? “Kibum ah, Jongmal Mianheyo. Aku janji, aku tak akan pernah memakai kacamata tebal pemberian ayah lagi, aku juga tidak akan cengeng lagi setiap kali ada masalah. Kibum ah, kita tidak akan pernah berpisahkan?” Tuhan! Hatiku sedikit miris dan merasa bersalah saat mendengar kat-kata maafnya. Aku pun memeluk tubuhnya yang hangat itu.
“Jinki ah, jika kau memang kesulitan melihat, sementara pakailah kacamata dari ayahmu itu, nanti kita beli yang lebih bagus bersama. Lagi pula kenapa kau harus minta maaf padaku? Akulah yang seharusnya melakukan hal itu padamu. Maafkan aku yang terlalu mengatur hidupmu, Mianh…”
“Ani…” Jinki melepas pelukanku dan tersenyum lebar. “Aku suka kau atur, karena memang hanya kamulah poros hidupku.” Wajahku terasa memanas. Aku yakin saat ini wajahku bersemu merah. Aku malu mengakuinya dan menutupi wajahku dengan kedua tanganku. “Kibum ah, kenapa kau tutupi wajahmu?” Jinki berusaha menjauhkan kedua tanganku dari wajahku.
“Ani, Jinki ah, jangan lihat!” Melihat tingkahku Jinki semakin menggodaku. Dia mendekatkan bibirnya pada telingaku dan berbisik.
“Ayolah Kibum ah, kau tahu, sehari aku tak melihatmu aku sudah merindukanmu seperti orang gila, jadi ijinkan aku memandang wajahmu.” Aku menggeliat geli saat merasakan desahan nafasnya berhembus di sekitar telingaku hingga tanpa sadar tanganku telah menjauh dari wajahku untuk mendorong tubuh Jini sedikit lebih jauh. Jinki terseyum manis melihat tingkahku dan wajahku yang makin memerah tentunya. Perlahan tapi pasti dia mendekatkan wajahnya pada wajahku hingga aku dapat merasakan hembusan nafas hangatnya.”Cantik.” Dia mengecup lembut bibirku. “Manis” desahnya di sela-sela ciumannya.
“Kau memang usil.” Aku melepaskan ciumannya yang makin memanas itu dan memasang wajah manyun seketika.
“Usil?”
“Kau mencuri ciuman dariku.”
“Tapi kau menyukainya kan?” Aku memang selalu menang dalam mengatur kehidupan Jinki, tapi entah mengapa aku selalu kalah dalam hal macam ini. Apa lagi ketika aku melihat senyum manisnya yang Nampak begitu dekat denganku. Aku merasa, diriku meleleh. Aku pun memeluk tubuh namja itu dan mengikuti permainannya.
++End of Kibum POV++
Dua kaleng teh untuk mereka dan satu kaleng kopi untuk Minho telah terbeli, namun sepertinya Minho harus menghabiskan tiga kaleng minuman ini seorang diri saat ia sadari pintu kamarnya telah terkunci dari dalam. Minho berkali-kali mencoba mengetuk pintu berharap Kibum akan membukanya namun yang ia dapati hanyalah tawa kecil dan beberapa desahan saat ia mendekatkan daun telinganya pada pintu. Minho menghela nafas panjang membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam. Ia pun kemudian pergi menjauh dari kamar yang sudah tak mungkin bisa ia masuki lagi malam ini dan berjalan lunglai dengan penuh rasa iri menuju kamar Jonghyun, kakak kelasnya. Ia yakin pasti masih ada ranjang kosong untuknya disana karna teman sekamar Jonghyun yang bernama Lee Jinki tengah asik bermain di kamarnya. ” Pokoknya, mereka berdua harus ganti rugi padaku besok.” Minho terus menggerutu sepanjang jalan sambil sesekali memukuli tembok yang ada di sepanjang lorong dengan wajah kesal karena tidurnya sudah cukup terganggu akhir ini, semenjak Kibum teman sekamarnya itu jadi kekasih dari namja yang bernama Lee Jinki.
~>END
Kekeke~ Ini bonus biar Minho g marah2 mulu....




0 komentar:
Posting Komentar