[FF/Yaoi/Miss U/One Shot]

Annyeong, kemarin ada beberapa temen author yang request FF yunjae. Entah itu siapa aja.. mianh aku lupa. Ku pikir2 mungkin emang ngbosenin ya aku bikin 2min ato onkey mulu =.=;; Mianh... hoho.. Mianh lagi kalo yunjaenya g gtu bagus. Dibuat dalam waktu singkat dan tanpa editing. bener2 ga berbakat dalam yunjar =.=;; tapi semoga kalian bisa menikmatinya *emang makanan?*
At least, hace a nice read and don't forget to leave me some comments ^^

Title : MISS U
Author : Lian1412
Length : Oneshot
Cast : DBSK
 Pairing : YunJae

++Jaejoong POV++


Apa yang kau pikirkan sekarang? Setelah kita terpisah jauh, setelah kita tak mungkin bersama lagi. Kenapa saat itu kau hanya diam dan menuruti segala kata-kata mereka? Padahal kau yang paling tahu betapa kejamnya mereka. Kenapa waktu itu kau tak ikut saja denganku? Aku yang menyayangimu.
“Hyung. Boleh aku masuk?” dengan hati-hati Yoochun menegurku yang tengah asik memainkan laptopku di kamar.
“Ne. masuklah.” Yoochun pun memasuki ruang kamarku dan duduk tepat disisiku.
“Hyung, apa yang kita lakukan ini benar?”


“Mwo? Kenapa kau masih mempertanyakannya lagi? Kita benar. Kita menuntut hak kita pada SME yang sudah sepatutnya kita dapatkan.”
“Tapi hyung… apa kau merasa baik-baik saja seperti ini?”
“Maksutmu?”
“Aku yakin kau pasti sangat merindukan leader kita itu bukan?” aku terdiam sesaat dan memandangi layar laptopku. Laptop hitam dengan wallpaper Yunho.
“Entahlah…”aku menghela nafas berat. “tapi aku tak mau mundur setelah sejauh ini. Aku tak ingin mereka menertawakan kita dan menganggap kita ini orang bodoh yang tak punya pendirian.” Yoochun mengangguk. Dia yang sensitive itu pasti paham perasaanku saat ini. Betapa rindunya aku pada kekasihku. Tatapan manjanya, lengannya yang kekar, peluknya yang hangat, senyumnya yang manis, bibirnya yang …. Menggoda. Aish, Segalanya tentang dia membuatku semakin gila. Yoochun menepuk pundakku perlahan.
“Kalau kau sudah tak tahan lagi kau bisa menghubunginya. Ini nomer ponselnya yang baru.” Yoochun menyodorkan secarik kertas kepadaku. Kertas yang berisi deretan angka yang cukup panjang.
“Kau…” aku kaget. Belum sempat aku bertanya darimana dia bisa dapatkan nomer Yunnie ku, dia sudah menjelaskannya padaku.
“Aku dapat dari salah seorang kru saat syuting drama kemarin. Aku bersusah payah agar bisa mendapatkannya, jadi manfaatkanlah sebaik mungkin. Aku tak ingin melihat wajah hyungku yang cantik satu ini jadi makin kusut setiap harinya karena memikirkan dia.”
“Ne. gomawoyo yoochun ah..” aku memeluk tubuh yoochun sebentar namun penuh arti. Aku tak tahu bagaimana caranya menyampaikan rasa terima kasihku saat ini. Aku terharu, betapa perhatiannya ia padaku.
++End of Jaejoong POV++
--------------------------------------------------------------
++Yunho POV++

Daun-daun berjatuhan dari ranting pohon besar di halaman rumahku. Dari teras kecil ini, aku dapat menatap jauh ke langit yang luas. Langit biru itu kini telah berwarna kelabu karena mendung yang tebal, membuat segala macam pemikiran buruk kembali berputar di benakku. Seperti kata joongie, mereka memang kejam. Mereka benar-benar membuatku tak bisa lagi berhubungan dengan kekasihku. Yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah duduk manis di hadapan laptop mencari tahu kabarnya lewat berita-berita yang ada di internet. Aku dapat melihat senyumannya di foto-foto yang terpampang pada berita-berita itu. Akan tetapi aku tahu, itu hanyalah senyum palsunya. Aku tahu betul dia. Dia mungkin saja bisa menipu banyak orang ataupun media yang ada, tapi dia tak akan pernah bisa menipu mataku.

Aku menghela nafas berat. Aku meminum perlahan secangkir kopi yang di buat oleh Ibuku beberapa saat yang lalu dan mulai menyanyikan segala lagu sedih yang ku tahu. Rasanya aneh. Pahit. Tidak pernah ada orang yang bisa menyeduh kopi sebaik joongie ku. Apa aku telah mengambil keputusan yang salah? Sepertinya begitu, karena keputusanku aku jadi terpisah dengannya. Akan tetapi, apa yang bisa kuperbuat saat ini? Dia cahaya hidupku. Adakah kiranya orang yang mampu membantuku saat ini? Aku merasa sangat lemah tanpanya.
Aku meraih ponselku dalam saku celanaku dan melihat ada 5 panggilan tak terjawab dari nomer yang sama. Nomer yang tak ku kenal. Tanpa pikir panjang aku menelpon balik nomer itu. Berharap bahwa yang sedari tadi menelponku itu adalah Jaejoong, orang yang selama ini kurindukan.
“Yoboseyo,dengan siapa ini? Changmin hyung sedang pergi dan meninggalkan ponselnya di rumah, ada pesan?” terdengar suara manis yeoja dari seberang membuatku patah semangat.
“Changmin?”
“Ne.”
“Hyung!” tiba-tiba saja ku dengar suara Changmin mengagetkanku dari belakang. Aku berbalik dan reflek mematikan ponselku. “Kau baik-baik saja?”
“Ne. Kau ganti nomor telponmu?”
“Yah, kemarin aku ketahuan menghubungi Junsu dan mereka memaksaku ganti nomorku kemudian mengancamku dengan berbagai hal. Rasanya mereka akan semakin membatasi gerakku dalam dunia entertainment.”
“Kau dapat nomor Junsu? Bagaimana bisa?”
“Aku dapat dari Junho hyung. Kenapa hyung? Kau ingin dapat nomor Jaejoong hyung?”
“Ne..” aku menjawab dengan nada lemas karena ku tahu itu memang mustahil untuk didapatkan.
“Lebih baik jangan berusaha untuk mencarinya hyung, aku tak mau kejadian yang sama tertimpa padamu. Kau mulai dapat kepercayaan dan banyak pekerjaan dari mereka lagi bukan?”
“Ne…” aku menjawab dengan nada lemas lagi. Aku tahu sudah tak ada yang bisa kuperbuat lagi saat ini. Aku benar-benar orang yang tak bisa diandalkan. Aku telah melanggar janji yang telah ku buat pada joongie. Dulu aku bilang aku tak akan meninggalkannya, aku akan selalu menjaganya, tapi kini aku kalah pada system yang ada. Aku mengambil selembar foto yang terletak di meja. Foto kami saat masih bersama dalam sebuah grup besar bernama DBSK. Aku memandang lesu foto itu. Joongie, aku ini hanyalah seorang pengecut. Dan pengecut ini hanya bisa merelakan diri, mengorbankan Joongie, dan membunuh perasaannya sendiri.

+End of Yunho POV++
----------------------------------------------
++Jaejoong POV++
Dari tadi aku mondar mandir dalam kamar menanti ponselku tersambung dengan milik Yunho. Saat aku menyadari ponsel seberang diangkat dengan riang dan rasa rindu yang tak tertahankan lagi aku bersorak.
“Yunho ah~! Ini aku Jaejoong. Bagaimana kabarmu?”
“Ehem.” Orang diseberang berdehem kemudian mulai bicara dengan nada kaku yang tajam. “Kim Jaejoong, apa kau lupa mengenai kesepakaan kita bahwa kau tak boleh lagi menghubungi Yunho atau pun Changmin huh?” suara berat yang jelek. Itu suara dia. Salah satu petinggi SM. Aku merasa aku telah terjebak oleh sesuatu.”Kenapa hanya diam? Kaget? Aku tahu akan jadi begini nantinya semenjak Yoochun main dalam drama di Korea. Kau pasti akan menemukan cara untuk menghubungi Yunho, maka aku segera menyita ponselnya dan kusuruh ganti dengan yang baru. Kau pikir kau pintar? Harus kau ingat, kami lebih lihai dari dirimu. Kau harusnya sadar akan hal itu. Tak akan pernah ada kekuatan yang mempu menandingi kami! Camkan itu baik-baik dan jangan coba-coba menghubungi Yunho atau pun Changmin lagi!” sambungan terputus. Aku tercekat. Kata-kata tajam itu lagi… rasanya hatiku ditusuk-tusuk olehnya dan membuat kakiku terasa lemas hingga membuatku hilang keseimbangan dan terduduk di lantai. Buliran air mataku jatuh perlahan hingga mengenai bibirku. Asin. Makin lama air mata itu jatuh semakin deras hingga sedikit membasahi kaos putih pemberian Yunho dulu.
“Yunho ah, aku harus bagaimana lagi? Aku sangat merindukanmu…” aku berkata lirih sambil terus menangis di sudut kamarku. Kamar dengan dinding yang penuh dengan poster besar bergambarkan Yunho. Kamar yang penuh dengan barang pemberian Yunho. Kamar yang penuh dengan segala yang berhubungan dengan Yunho. Sebagian koleksi topinya, sisa obat flunya musim dingin kemarin, bolpennya yang sudah tak bisa dipakai lagi, mantel hangat yang ia berikan padaku, foto-foto kami berdua… Aku rasakan aku semakin gila karenanya…
 miss u
---++END++---