[FF/Yaoi/Punishment/One Shot]
Annyeong, setelah sebulan lebih vakum dari dunia per-ff-an *apadah* karena sibuk ngurus kuliah yg menyebalkan saya kembali dengan FF Yaoi SHINee. Entah pairingnya siapa ga jelas berhubung saya bikinny jg pas lagi agak gila karena masalah.FF ini sekalian menuhin requestnya Jingga Matahari 태민 hehe... And, Special thx buat temen satu kosku yg uda bae ngasih inspirasi k aku...
At least, hace a nice read and don't forget to leave me some comments ^^
Title : Punishment
Author : Lian1412
Length : Oneshot
Cast : SHINee & Manajer
“Hyung, aku penasaran.”
“Hm?” Minho hyung hanya ber ‘hm’ tanpa memandangku. Dia terlalu sibuk dengan buku-buku tebal yang ada disekitarnya. Kuliah dan segala tugas-tugasnya telah menyita banyak waktunya yang biasa ia luangkan untukku.
“Hyung, kapan waktu liburnya?”
“Sudah kuduga kau pasti akan Tanya hal seperti itu lagi.” Kali ini Minho hyung memutar posisi duduknya menghadap ranjangnya dimana aku sedang duduk memainkan selimut tebalnya. Dia bangkit dari posisi duduknya dan beranjak duduk disebelahku. Dengan lengannya yang kuat tapi lembut itu, dia merengkuh pundakku kemudian mengacak-acak rambutku. Sesaat kemudian ia membenturkan perlahan dahinya pada dahiku. “Bersabarlah sebentar lagi.” Katanya dengan suara beratnya itu. Aku bias merasakan hembusan nafas hangatnya yang menerpa wajahku membuat sesuatu yang ada di dalam tubuhku bergejolak. Rasanya seperti meloncat-loncat di udara. Aku berharap dia menciumku saat ini juga. Baru sekejap aku merasakan kebahagiaan cinta darinya ia mengecup keningku sekilas kemudian kembali menuju laptop yang terletak di meja belajarnya lagi. Aku menghela nafas berat tak trima. Posisiku kini tersaingi oleh sebuah benda mati yang bernama laptop itu. Aku turun dari ranjangnya dan membanting bantal yang ada kea rah lantai dan membuat kamar orang yang kukasihi itu semakin terlihat berantakan. Aku mulai melangkahkan kakiku menuju arah pintu. Aku sedikit kecewa. Meski aku keluar dari ruangan itu hyung tetap tak mempedulikanku. Padahal biasanya ia pasti akan bertanya akan kemana aku pergi.
Keluar dari kamar Minho hyung, aku melihat Jonghyun hyung dan Kibum hyung sedang asik becanda ria dengan kegilaan mereka di depan televisi. Melihatku yang keluar dengan raut muka kusut Jonghyun hyung menyapaku, “sepertinya tak berjalan dengan baik ya?” aku hanya mengunci bibirku rapat-rapat menahan rasa kesal dan menuju dapur. Ku keluarkan segala isi lemari es dan memakan semua makanan kecil yang ada dan meminum segala macam minuman yang ada disana. Dari yang manis hingga yang terasa aneh hingga membuat kepalaku terasa berat. Berat, tapi aku merasa lebih baik dengan cara pelampiasan yang seperti ini.
++End of Taemin POV++
++Jinki POV++
Rasa letihku semakin menjadi saat aku pulang dari rekaman untuk sebiah salah satu program acara TV dan melihat pemandangan menyebalkan yang pernah ada. Kibumku sedang bercanda ria dengan Jonghyun. Mereka melakukan segala macam kegilaan yang tak bias kuikuti. Mulai dari bernyanyi lagu-lagu yang tak kumengerti maksutnya hingga melakukan segala dance girlband, itu hobi Kibum. “Haaaah~” aku menghela nafas panjang dan berat.
“Mana Minho?” tanyaku menghentikan keriangan mereka untuk sesaat.
“Dia masih belum keluar dari kamarnya tuh.” Jonghyun menunjuk-nunjuk kamar yang dibaginya dengan Minho.
“Mwo? Ini sudah lebih dari seminggu dalam liburan awal musim panas tahun ini dia seperti ini bukan? Apa dia baik-baik saja? Lalu Taemin masih menungguinya seperti biasanya?”
“Aniyo, sepertinya dia mulai bosan dan keluar dari kamar itu tadi. Kalau kau cemas, kenapa tak kau lihat saja sendiri dengan mata kepalamu nasib salah seorang membermu yang sedang memaksakan diri itu.” Kibum menjawab pertanyaanku dengan acuh kemudian kembali bersenang-senang melanjutkan kegiatan yang tak jelas bersama Jonghyun.
Lagi-lagi aku menghela nafas panjang dan beranjak menuju kamar Minho.
“Minho ah~ kau masih sibuk dengan tugas-tugasmu itu?”
“Ne.” Minho menjawab dengan singkat sambil tetap menatap layar laptopnya itu.
“Masih lama?” mendengar pertanyaanku ekspresi Minho sedikit berubah. Ia tertawa kecil dan menghentikan kegiatannya bersama sang leptop sejenak.
“Hyung, kau ini benar-benar mirip Taemin. Bersabarlah sebentar lagi, aku sedang berusaha. Sebegitu inginnya kah kau ke pantai?” aku terkejut teringat dengan ide konyol setengah iseng yang kusampaikan dua minggu yang lalu. ‘aku ingin pergi ke pantai dan membuat konser kecil disana’
”Yah. Kalau karena ide konyol yang kuungkapkan dua minggu yang lalu itukah maka kau jadi macam orang kesetanan berusaha menyelesaikan segala tugas musim panasmu segera?”
“Ne.” Minho tersenyum manis dengan menunjukkan deretan giginya yang putih manis itu.
“Minho ah, kalau tahu seperti ini jadinya aku tak akan membuat permohonan konyol macam itu. Aku tak ingin kita pergi ke pantai kalau Taemin harus sengsara berminggu-minggu karna kau acuhkan.”
“Ne, aku juga merasa bersalah karenanya. Tapi, Taemin masih kecil dan ia pasti akan sangat membutuhkan yang namanya liburan bukan? Aku ingin dia merasakan liburan musim panas SMA yang menyenangkan juga seperti anak-anak seusianya. Seperti teman-teman sekelasnya yang setiap saat pamer cerita lewat telpon tentang liburan-liburannya.” Aku diam meng’iya’kan segala perkataannya.
“Ne. kalau begitu aku cari Taemin dulu. Kurasa dia kesepian saat ini. Biar aku menggantikan posisimu menjaga si kecil itu untuk beberapa hari kedepan ini.”
“Ne. tolong ya hyung.” Aku melihat wajah merajuknya dan tersenyum kecil kemudian keluar mencari-cari Taemin. Yah, lagi pula aku sedang kesepian juga saat ini. Saat kibum lebih focus pada hal-hal gilanya bersama Jonghyun.
++End of Jinki POV++
‘Brak!’
Tiba-tiba saja terdengar suara sesuatu jatuh dengan sangat keras dari arah dapur. Sontak seluruh penghuni apartemen kecuali Minho yang masih tetap asik memandangi layar laptopnya berlari menuju sumber suara.
Semua mata terbelalak. Untuk sesaat mereka tercekat namun kemudian berteriak hampir bersamaan sekeras mungkin.
“TAEMIN!!!”
Mendengar teriakan begitu keras yang penuh nada kehawatiran yang meneriakan nama kekasihnya, Minho bergegas berlari menuju sumber teriakan itu dan mendapati kekasihnya tergolek di lantai dekat meja makan sambil tertawa-tawa ganjil. Pada meja makan tersebut berserakan sampah-sampah bekas makanan kecil dan berbagai botol minuman bersoda dan beralkohol kosong. Minho dan Kibum bergegas berebut untuk membopong tubuh mungil itu. Dengan postur tubuh seperti Minho, sudah pastilah ia yang memenangkan perebutan itu dan membopong tubuh mungil Taemin bak putri raja. Ia membawa Taemin menuju kamar dan membaringkannya ke ranjang. Setelah itu semuanya keluar dari kamar kecuali Kibum yang sedang menangani Taemin yang mulai mual dan muntah-muntah.
“Yah! Siapa yang menaruh minuman sial macam itu dalam lemari es? Hanya kalian berdua yang cukup umur dalam hal seperti ini bukan?” Emosi Minho meledak sesaat sesampainya mereka bertiga keluar dari kamar.
“Bukan aku. Aku tidak suka minum. Jonghyun, kaukah?” Jinki membantah dan menunjuk kea rah Jonghyun.
“Yah! Bagaimana bisa kau menuduhku tanpa bukti?”
“Hanya kau yang suka melakukan hal-hal aneh yang diluar perkiraan.”
“Maksutmu? Bagaimana dengan Kibum pacarmu itu! Dia tak jauh beda denganku.”
“Yah! Kalian ini berisik sekali sih?” Kibum keluar dari kamar dengan pasang muka masam.
“Bagaimana Taemin?” Minho tak mempedulikan wajah masam itu dan segera meraih lengan Kibum dan bertanya dengan nada cemas.
“Dia sedang tertidur. Yah mungkin besok dia akan terbangun dengan kondisi yang lemah. Dia minum terlalu banyak padahal dia tak pernah minum minuman seperti ini sebelumnya.” Jawab Kibum dengan tampang jutek. Untuk beberapa saat mereka saling pandang dengan tatapan saling curiga.
“Yah, sebaiknya kita bicarakan hal ini baik-baik di ruang tengah.” Jinki sang leader mencoba mengambil jalan tengah. Semuanya mengangguk setuju kemudian berjalan gontai menuju ruang tengah. Sesampainya disana mereka duduk hamper bersamaan dengan helaan nafas kurang puas. “Jadi, adakah diantara kita yang mau mengaku siapa yang berani membawa masuk minuman macam itu ke dalam kulkas kita?” Semuanya menggeleng serempak kemudian saling pandang dengan tatapan penuh curiga lagi. “Kalau tidak ada yang merasa memasukkannya, bagaimana bisa barang macam itu ada di dalamnya?” Kibum mengankat kedua bahunya cepat.
“Mana kutahu. Aku kembali dulu ke kamar. Jaga-jaga kalau Taemin butuh sesuatu.” Sesaat setelah Kibum beranjak pergi, Jonghyun turut berdiri.
“Bukan aku juga. Harusnya yang patut disalahkan bukan hanya pembawa minuman itu masuk. Kurasa orang yang sudah lalai dalam menjaga Taemin juga patut dipersalahkan. Bukankah dulu dia pernah bilang akan menjaga Taemin apa pun yang terjadi?” Jonghyun melirik ke arah Minho sesaat dengan lirikan merendahkan kemudian pergi dari tempat itu menuju kamarnya. Minho marah. Harga dirinya seakan diinjak-injak, tapi pada kenyataannya yang dikatakan Jonghyun memanglah benar.
“Hah…” Jinki menghela nafas dan bangkit dari duduknya mendekati Minho yang menunduk penuh penyesalan kemudian menepuk pundak namja itu. “Sudahlah. Yang penting hal seperti ini jangan sampai terjadi lagi. Kita semua sama. Kita tak ingin Taemin sampai masuk jalan yang salah. Kita tak ingin Taemin kenapa-napa. Sekarang lebih baik kembali saja ke kamarmu dan lanjutkan tugasmu. Taemin sudah ada aku dan Kibum yang akan menjaga di kamar.”
“Ne.” Minho menjawab singkat. Beberapa saat kemudian, ruang tengah kembali sepi tanpa ada seorang pun disana.
-------------------------------------------------------
“Hyung, kita ini perform dimana? Aku merasa kita sudah cukup jauh dari Seoul.” Taemin yang duduk dalam mobil paling belakang bertanya pada Jinki yang duduk disebelahnya sambil menarik-narik lengan baju Jinki. Jinki tersenyum kekanak-kanakaan sambil mengacak-acak lembut rambut Taemin.
“Hari ini kita libuuuuuuuurrrr!!!!!” Kibum yang berada tepat di depan Taemin mendekati Taemin dan berteriak sekerasnya.
“Yah Yeay!!! Kita liburan!” Sahut Jonghyun yang duduk disebelah Kibum.
“Yeay kita libur! Yo yo yo mari kita bersenang-senang yay! Pantai pantai kami akan segera tiba!!!” setelah Kibum dan Jonghyun melakukan rap yang tak begitu jelas artinya. Taemin menarik lengan baju Jinki.
“Lalu bagaimana dengan tugas Minho hyung?”
“tenanglah Taemin ah, dia sudah menyelesaikan semuanya.”
“Jinja?”
“Ne.” Taemin melirik kea rah bangku paling depan. Memandangi sosok namja yang hanya diam memandangi jalan yang ada di depannya sambil sesekali berbincang-bincang dengan manajer mereka yang sedang menjalankan mobil.
Sesampainya di pantai, seluruh member SHINee bertingkah seperti anak kecil lagi. Mereka berlari-larian, kejar-kejaran dan bermain air dengan riangnya. Setelah merasa puas mereka beristirahat sejenak untuk memakan bekal yang telah disiapkan oleh Kibum. Semuanya bergembira menikmati makanan itu kecuali yang paling muda. Taemin Nampak tak berselera makan dan memasang tampang enggan.
“Yah! Taemin ah, kenapa kau tak memakan masakanku? Ada yang kurang?” Tanya Kibum yang merasa tersinggung karena masakannya tak di jamah oleh si mungil yang biasanya selalu melahap habis setiap masakannya.
“A.. aniyo hyung… aku hanya memikirkan sesuatu.”
“Apa?”
“Ada yang ingin kusampaikan pada manajer hyung, tapi aku bingung harus bicara dari mana.”
“Ada apa Taemin ah? Katakan saja apa yang ingin kau katakana padaku seperti biasanya.” Manajer berkata dengan wajah bersahaja yang membuat Taemin tenang.
“Anu… mengenai barang titipan yang hyung titipkan padaku beberapa hari yang lalu… Mianh… aku menghabiskannya. Rasanya tidak enak sekali. Kenapa hyung suka meminumnya?” Semua member SHINee menatap tajam kea rah manajer mereka. Mereka nampaknya sudah mengerti barang titipan apa yang dimaksut itu. Sementara manajer Nampak salah tingkah dan menahan malu.
“Eh.. ah… yah.. kau akan tahu nanti kalau sudah dewasa Taemin ah…” para member SHINee makin menatap tajam manajer mereka.
“Hyung!!! Jadi kau kah yang membiarkan Taemin menyentuh barang sial itu???” Minho, Kibum, dan Jinki serentak kompak mengangkat tubuh manajer mereka dengan tatapan garang bersiap member pelajaran. Mereka mengangkat tubuh yang tak kuasa melawan tiga orang sekaligus itu kea rah laut. Ne. mereka membuang manajer mereka ke laut. Menenggelamkannya kemudian menariknya kembali lalu mereka memukuli tubuh manajer itu pelan. Belum puas sampai disitu. Mereka mengubur tubuh manajer mereka dalam pasir hingga hanya kepalanya saja yang terlihat. Berkali-kali sang manajer memohon maaf, namun tak mereka dengarkan.
Sementara tiga anggota SHINee sedang sibuk mengurus sang manajer, Jonghyun merentangkan lengannya dan menjatuhkannya di bahu Taemin.
“Taemin ah, jangan kau contoh hyungmu yang kejam itu ya. Lebih baik kau bermain denganku saja. Bagaimana?” Taemin tidak langsung menjawab tawaran dari Jonghyun. Ia memandang para hyungnya yang lain. Sikap liar hyungnya membuatnya merinding ngeri dan menelan ludah pahit.
“Ne.” Akhirnya Taemin meng’iya’kan ajakan Jonghyun. Jonghyun pun dengan semangat mengajak Taemin berdiri dan memasuki villa. Dalam hati Jonghyun berbisik. ‘rasakan kau choi Minho’. Rasanya sudah lama sekali Jonghyun merasa iri pada pasangan yang selalu mesra itu dan kini berniat untuk mengusiknya.
---------------------------------------------------------
“Yah.. Mianh mianh mianh. Jongmal Mianeyo…” manajer SHINee terus saja berteriak memohon maaf sementara Minho, Kibum, dan Jinki tertawa terbahak-bahak.
“Sudahlah, kita tinggal saja manajer ini dan lanjut makan.” Pinta Jinki.
“Ne.” jawab Kibum
“Eh, Mana Taemin?” Minho menyadari ada yang ganjil. “Jonghyun hyung juga?”
“Yah! Aku merasakan suatu hal buruk akan terjadi.” Jinki berkata dengan nada seolah-olah ada hantu yang mendekat.
“Yah! Aku ingat. Kemarin-kemarin Jonghyun bilang dia akan mengambil segalanya darimu. Kau tahukan kalau Jonghyun paling iri pada dirimu.?”
Mendengar penjelasan dari kedua temannya Minho merasakan firasat buruk, Minho bergegas lari menuju villa. Seperti firasatnya menjadi nyata saat ia dapati salah satu villa tersebut terkunci dan terdengar suara tawa aneh dari dalamnya. Minho pun dengan sekuat tenaga berusaha mendobrak kamar itu. Saat daun pintu berhasil terbuka Minho segera masuk dan berteriak keras penuh kekhawatiran.
“Taemin ah! Kau baik-baik sa…” kata-kata Minho terhenti saat mendapati pemandangan di dalam kamar tersebut. Taemin dan Jonghyun sedang berada di lantai.
“Ada apa hyung?” Tanya Taemin dengan muka tanpa dosa.
“Kau… apa yang sedang kau lakukan?” Minho masih merasa shock dengan apa yang dilihatnya. Akan tetapi Taemin justru bangkit dari lantai dingin tersebut dan menarik lengan Minho untuk ikut bergabung ke lantai.
“Hyung mau main bersama? Kita bisa main bertiga. But I’ll on the top… hehe…”
“Yah! Minho ah. Apa-apaan kau ini? Wajahmu terlihat begitu aneh. Kaget? Taemin bermain dengan bagus sedari tadi.”
“Ah, ani…aniyo.. aku hanya sedikit kaget saja.”
“Kaget karena perkiraanmu meleset? Haha.. sudahlah ayo kita main. Taemin, kali ini aku pasti akan mengalahkanmu.”
“Kau tak akan bisa hyung.. weee…” Taemin menjulurkan lidahnya kearah Jonghyun dan memulai permainan monopoli itu lagi membiarkan Minho yang masih terkejut dengan kenyataan yang ada. Pemikiran dan segala perkiraan Minho meleset total, tapi akhirnya ia pun ikut bermain permainan yang tak terduga itu sambil sesekali berusaha meraih pundak kecil Taemin agar bergeser lebih dekat denganya. Dalam hati ia masih khawatir jika Taemin benar-benar direbut oleh Jonghyun.
Sementara mereka bermain, di kamar lain Jinki sedang menghukum Kibum atas tingkah nakalnya yang kambuh akhir-akhir ini. Tingkah nakalnya yang menggila dengan Jonghyun. Namun Kibum tidak menolak hukuman itu, ia justru menerimanya dengan senang hati. Dia berbisik pada Jinki dengan nada mesra.
“Hukum aku sepuasmuJinki ah.” Jinki tersenyum penuh arti dan Nampak makin semangat melanjutkan hukuman itu.
+++END++++



0 komentar:
Posting Komentar