[1st 2shots FF/Chap 1] Cassiopeia 'Call my Name'

Annyeong... Akhir-akhir ini Lian ketagihan buat bikin FF nih. Penasaran banget kenapa masih aja ada yang kurang. Yah, namanya juga belajar. Musti dicoba berkali-kali dan koreksi dari kritik dan saran ff yang sebelumnya biar bisa bagus^^. Moga kalian gak bosen baca ceritaku. 'cz baru kali ini bikin three shots yg isinya roman sih -_-;;
Yah.. Met baca. Jangan lupa commentnya ya^^

Title : Cassiopeia ' Call my Name'
Author : Lian 1412
Main Cast :
- Shim Changmin

- Chibi Novyrin as Lee Novyrin

Support Cast
- Lian as Lee Sora

~All Novyrin POV~

Ada seorang gadis yang tidak bisa tenang saat liburan musim panas....

Itulah aku, Lee Novyrin, 21tahun. Aku tidak menyangka pertemuan itu akan terjadi disini. Di perpustakaan kota tempat aku belajar setelah bolos dari pelajaran sekolah yang berisik...

"Lho? Tumben ada anak kuliahan lain pada jam segini... Lagian kenapa musti duduk di tempat kesukaanku sih?" Aku menggerutu sendri saat melihat tempat favoritku sudah didahului oleh pemuda tinggi yang mengenakan kacamata. Sepertinya dia dari akademi favorit di Seoul ini. Aku bertanya-tanya dalam hati, "Kenapa mahasiswa sehebat itu datang kemari? Bukannya perpustakaannya disana lebih bagus dari perpustakaan kota yang biasa-biasa aja ini?"

Yah, apa boleh buat.. aku bersabar saja untuk hari ini. Aku pun mengambil tempat duduk yang menghadap padanya. Meski bukan favoritku, tapi tempat ini lumayan strategis juga. Yang penting bisa melihat ke arah luar dari jendela.

Tapi tiba-tiba saja dia memandang kearahku dengan pandangan yang cukup menusuk. Dia tampak menyebalkan.

"Kenapa kau malah duduk disitu? Sebaiknya jangan duduk disitu!" Bentaknya dengan judes.

"Aku selalu duduk disini! Kenapa kau harus bilang begitu padaku?" Balasku dengan nada yang gak kalah judesnya.

"Huh! Kau ngerti kata-kataku kan? Pergi sana! Padahal kau cuma Cassie..."

Mendengar kata-katanya itu rasanya aku jadi sebel banget. "Cassie? Ngomong apa sih dia ini? Ahhh... Tapi aku juga tak ingin pindah dari sini. Cuek saja lah!" Batinku terus saja menggerutu.

Aku pun membuka buku dan mulai kosentrasi mengerjakan soal-soal. Yah, sebentar lagi aku kan harus menghadapi ujian sementara itu dia hanya memandangiku saja dari tadi. Nah, sialnya, saat aku belajar matematika, aku sama sekali tak paham cara pemecahannya. Maklum, aku lemah dalam hal berhitung.

"Yang itu... begini cara mengerjakannya"

Tiba-tiba saja dia muncul di sampingku dan mengajariku. Aku sendiri kaget. Sejak kapan dia berpindah tempat. Atau jangan-jangan dia punya ilmu rahasia? Ah.. konyol sekali pemikiranku ini.

""Coba pinjam. Pakailah metode subtitusi..." dia mengambil pensilku dan mulai mengajariku. Setelah cukup paham aku hanya bisa mengangguk-angguk.

"Oh, begitu.. " mulutku reflek membuat bulatan berbentuk O. "Go.. Gomawo.."aku menundukkan kepalaku padanya.

"Mianhae... Ternyata kau bukan cassiopeia. Maaf omonganku ngawur" Dia berkata sambil tersenyum... Ah.. senyum yang manis sekali...

"Ah... apa maksutnya dengan cassiopeia dan Cassie?" Aku pun coba bertanya tentang kata asing yang sedari tadi ia ucapkan itu. Aku penasaran sekali.

Namun ia tak menjawab pertanyaanku justru memandang alrojinya dan berkata dengan nada kelabakan

"Waduh. Gawat, waktunya sudah tiba. Aku pergi dulu." Saking buru-burunya dia justru membuat kursinya sendiri terjatuh sehingga membuat suara gaduh. Seluruh penghuni perpustakaan memandang tajam kearah kami. Kami pun hanya bisa saling pandang kemudian tertawa kecil menertawakan kecerobohan lelaki yang tak kukenal namanya ini.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------


Sejak saat itu kami sering bertemu secara kebetulan paling tidak 2 kali dalam seminggu. Terkadang ia mengajariku soal matematika yang tak ku mengerti. Masing-masing dari kami melewatkan waktu dengan tenang tanpa tahu nama masing-masing. Seolah di depan kami hanya angin. Namun suatu saat akhirnya dia mengajakku ngobrol.

"yah.. Kenapa kau bolos dan datang kemari?"

"Aku? Ha ha .. mungkin kau akan tertawa kalau kuceritakan hal ini. Tapi aku ini sering ditindas di kampus karena menurut mereka aku ini kutu buku yang aneh. Tapi aku punya cita-cita yang cukup keren. Aku ingin keliling dunia. Yah, meski rasanya mustahil. Makanya aku suka sekali berada di sini. Rasanya seperti bisa keliling dunia meski hanya lewat buku. eh ehm.. Anu... Kau mahasiswa akademi ternama itu kan? Hebat ya. Aku salut."

"Ah, tidak sehebat itu kok. Sebetulnya aku tak suka di kampus. Kampus itu berisik. Di rumah juga. Yah, sebetulnya alasanku kemari tidaklah sehebat alasanmu. Aku berbohong sehingga bisa pulang cepat, dan menghabiskan waktu di sini hingga waktu kerjaku tiba. Yah, mari kita berjuang sama-sama."

Dia tersenyum manis lagi. Saat itu aku pertama kali menyadari bahwa pemuda itu begitu tampan.

Tiba-tiba saja alarm di handphonenya berdering. Spontan dia kaget dan kelabakan seperti saat pertama bertemu dulu.

"Wah! Gawat! Aku pergi dulu!"

Namun kulihat buku yang biasa dibacanya masih tergeletak di meja. Aku mengambilnya dan hendak menyerahkan buku itu padanya. Tapi dia sudah tak nampak lagi dari pandanganku. Aku pun iseng-iseng membuka buku yang ternyata berisi tulisan-tulisan yang mirip dengan lirik lagu. "Jangan-jangan dia ikut band sekolah. Tapi, bukankah dia tak suka keributan? Aneh."

Aku melihat ke arah luar dari jendela dekat tempat dudukku. Kudapati pemuda itu masih berada di luar. Spertinya masih menunggu taxi. Aku pun bergegas lari menghampirinya.

"Hei! Anu..." Aku tak tahu harus memanggilnya siapa. Namun syukurlah dia sadar dan menoleh ke arahku. "Bukumu tertinggal." Aku menyodorkan buku itu padanya.

"Ah... Gomawo." Dia pun menerimanya.

"Buku apa ini...?"

Dia tak menjawab. Hanya memandangi keadaan sekitar.

"Anu...?" Aku pun jadi merasa kikuk dengan sikapnya yang seakan-akan waspada sekali itu.

"Mianh... tolong jangan bicara padaku di luar perpus." Dia berkata dengan nada dingin kemudian berlalu dengan taxi yang baru di dapatnya.

"Apa-apaan sih orang itu? Aku nggak ngerti." Aku pun lagi-lagi hanya bisa menggerutu dengan sikapnya yang terkadang menyebalkan itu. Tapi sesaat kemudian aku tak sengaja mendengar pembicaraan dua perempuan yang tak sengaja melihat kami tadi.

"Kau lihat cowok yang tadi naik taxi?"

"Ya"

"Itu kan Max Changmin, salah satu anggota DBSK!?"

"Iya, ya. Apa benar dia datang ke perpustakaan ini!?"

Aku bingung sekali mendengarnya. Saat ini aku belum mengerti apa pun soal dia sih.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Hari-hari berikutnya dia tak datang lagi ke perpustakaan kota tempat kami biasa bertemu. Lagi pula, rasanya tiba-tiba di sekitar perpus jadi banyak cewek. Saat pulang dari perpustakaan aku tak sengaja mendengar pembicaraan mereka.

"Apa benar Changmin oppa kemari?"

"Katanya ada yang melihatnya."

Aku bingung dan tak paham dengan perkataan mereka. Changmin? siapa itu?

'Tolong jangan bicara denganku di luar perpus.' Itulah kata-kata terakhir yang dia ucapkan. Benar juga. Sejak awal Siswa akademi ternama berteman denganku itu saja sudah terasa aneh. ku sembarangan berfikir kalau kami ini akrab padahal kami tak mengerti nama satu sama lain. Ah, aku ini memang bodoh.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Hari Minggu. Hari ini hujan sangat deras. Entah kenapa aku berjalan menuju kearah perpus dengan payung merahku ini. Sesampainya di perpustakaan aku baru sadar kalau hari ini perpus tutup. Ah, betapa payahnya diriku ini. Tapi, apa ini kenyataan? Aku melihat pemuda itu lagi di depan perpustakaan. Dia basah kuyup kehujanan. Dia memakai baju bebas dan tanpa kacamata. Tampangnya pun terlihat sepert memendam kesedihan yang mendalam. Seolah dia ini orang lain. Lalui kenapa dia ada di sini?

"Kau sedang apa? Sampai kehujanan begitu" Teriakku sambil menghampirinya. Tapi dia hanya menoleh dan menjawab tanpa beban

"Lho... Kau kenapa kemari? Hari ini kan tutup."

"Dasar. Kau sendiri ngapain? Wah, kau sampai basah kuyup begini." Aku pun berjinjit coba membagi payungku dengan tubuh tingginya itu. Ehm.. mungkin tingginya hampir 2 meter lah.

"Nggak menyangka kita bisa bertemu... Kalau aku nggak bisa bertemu denganmu... Aku pasti sedang dihukum Tuhan." Dia menjawab dengan senyum yang begitu manis. Aih.. aku lemah dengan senyumnya ini. Rasanya jantungku berdebar-debar.

"Kenapa dihukum Tuhan?"

"Aku ini... Selalu bertindak semauku. Aku tahu kalau aku menyusahkanmu. Itu sebabnya aku ingin menemuimu. Aku bahkan gak tahu siapa namamu."

"Aku... Namaku..." Saat aku akan menyebutkan namaku tiba-tiba saja telunjuknya menyentuh bibirku yang berarti mengisaratkan ku untuk diam.

"Namaku Shim Changmin. Tapi orang-orang memanggilku Max Changmin. Bisakah kau menonton TV malam ini?"

"Eh?"

"Lalu, jika menurutmu nggak masalah kalu temanmu bukan orang biasa, maukah kau menelpon kemari? Saat itu, beritahukanlah namamu."

Aku hanya bisa bengong saat melihatnya dia pergi dari tempat itu setelah memberikan secarik kertas yang bertuliskan nomer telepon kepadaku.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Malam ini sesuai perkataan Changmin oppa, aku menonton acara salah satu jaringan TV. Betapa terkejutnya aku saat kudapati Shim Changmin. Orang yang tadi bersamaku kini ada di sebuah panggung dan disoroti lampu yang berkilauan. Anggota DBSK / TVXQ / Tohoshinki. Max Changmin...

"Ha ha.. ternyata fotonya terpampang di majalah rumahku." Aku begitu kaget saat membuka majalah-majalah milik adikku. Aku bahkan sulit mempercayai diriku sendiri. Begitu aku menyadarinya, ternyata dia ada dimana-mana. Kenapa aku tak sadar ya? Apa aku ini memang tak peka terhadap sekitar? Saat aku bertanya pada dongsaengku Lee Sora mengenai dia, dengan semangatnya dia menjawab.

"Changmin oppa? Tentu saja aku tahu. Dia kan anggota DBSK. Di kelasku banyak sekali Cassiopeia."

"Cassiopeia?"

"Fans club mereka namanya Cassiopeia atau biasa disingkat Cassie. Eh, unnie, SoRa juga Cassie loh!"

Yang benar saja... Apa yang harus kulakukan terhadap orang sehebat dia? Entah apa bagusnya diriku ini hingga Changmin mengajakku berteman. Tapi...entah kenapa aku justru menelponnya. Aku nggak tahu apa yang akan terjadi.

"Ya?" Suara Changmin di seberang terdengar sangat jelas sekali. Aku merasa gugup.

"Anu..."

"Ya?"

Hanya satu yang ingin kusampaikan. Shim Changmin, panggillah namaku.

"Namaku Lee Novyrin."

"Oh, novyrin??? ha ha... Nama yang unik. Pas sekali denganmu. Ku rasa aku suka dengan nama itu."

Oh Tuhan... Changmin oppa memanggil namaku... Dia bilang dia suka namaku! Ah....Ku rasa aku akan mimpi indah malam ini...

Semoga yang kudengar tadi bukan hanya khayalanku... Good Night^^



-Chapter 1 END-
~ to be Continue to Chap 2
Ah selesai juga. Maaf kalau ada kata-kata yang salah ketik atau rada gak nyambung. Idenya muncul di tengah malem dan langsung d garap sih. Maksutnya biar gak kelupaan gitu... Buat Chap 1 main castnya Novyrin unnie.. Tar CHap 2 nya lian sendiri he he heXXD. Atau, ada yang mau ngajuin diri jadi main castnya chapter ke2? Silahkan aja jangan sungkan-sungkan. Yah, asal gak keberatan dengan tulisan Lian yang masih amatir ini-_-;; 0z, jangan lupa commentnya ya. Lian butuh banget kritik n saran dari semuanya^^