Eoddeokhae eoddeokhae A.MI.GO! [2nd FF/one shot again]

Berhubung karya pertama Lian 'Taemin... Love Like Oxygen' akhirnya gantung n jadi jelek banget, Jadi Lian bikin aja terusannya. Tapi kali ini tokoh utamanya bukan lagi Changmin oppa dan Taemin, Tapi cukup Minho Oppa yang cuman kebagian peran dikit di FF yang lalu.


Met baca^^ Jangan lupa Commentnya ya^^

Title : Eoddeokhae eoddeokhae A.MI.GO!
Author : lian 1412
Main Cast :
- Choi Minho



Support Cast
- all member SHINee

-Nichkhun 2PM



~All Minho POV~


Aku berjalan cepat menusuri lorong rumah sakit tempat Taemin di rawat. Yah, dia baru saja mengalami kecelakaan. Aku khawatir setengah mati. Namun siapa sangka kalau ternyata yang menyambut kedatanganku adalah adegan tak mengenakkan antara hyungku, Changmin dan Taemin? Entah kenapa rasanya seluruh darah di tubuh naik ke atas. Rasa marah yang tak tertahankan. Fikiranku kacau balau jika mengingat kejadian tadi.Tiba-tiba kurasakan ada seseorang yang menarik lenganku sembari memanggil namaku.

"Minho tunggu!!!" Kulihat Changmin hyung ngos-ngosan sehabis mengejarku.

"Apa?" Ku kibaskan lenganku yang dipegang olehnya. Kemudian aku memasang tampang judes. Aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa orang yang kusuruh menjaga Taemin, adik kesayanganku justru yang mencelakakannya. Bahkan ia menyuguhi pemandangan yang membuatku semakin benci padanya. Dia memeluk Taemin dan Taemin bilang dia sayang pada orang seperti ini? Saat ini di mataku Changmin benar-benar terlihat rendah.

"Mianhae... a...aku...tadi.. ah... tapi aku benar-benar sayang padanya. Dan sepertinya aku mulai menyukainya.

BUGH!Tinjuku melayang begitu saja dan mendarat dengan sukses di pipi kirinya. Aku sendiri terkejut dengan apa yang telah kulakukan. Namun kalimat terakhirnya tadi telah membuatku hilang kendali."Terserah! Tapi aku tak akan memberikan Taemin kepada orang sepertimu hyung!"Aku pun segera berlari cepat meninggalkan Changmin hyung yang masih terperangah sambil menahan rasa ngilu di pipinya.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Seminggu setelah kejadian di rumah sakit, kujalani hidup seperti biasanya. Untunglah kelakuanku itu tidak tercium oleh para kuli tinta. Aku pun bersyukur pihak DBSK tidak mempermasalahkan hal ini. Yah, kami harus jaga nama baik bukan?

Tiba-tiba ada seorang gadis mendekati bangku tempat ku merenung sedari tadi.

"Oppa.... Ini... tolong dibaca." Seorang gadis membungkukkan badannya sambil menyerahkan sepucuk surat berwarna merah muda kemudian lari begitu saja. Sepertinya ia menahan malu yang teramat sangat. Aku bingung akan kuapakan surat ini? Surat cinta ya? Aku tak butuh.

"ckckckck... apapan ini? Kenapa kau begitu beken sih?" Nichkun sahabat terbaikku tiba-tiba saja datang sambil geleng-geleng kepala.

"Kenapa tak kau terima saja salah seorang diantara mereka? Yang barusah itu lumayan cakep tuh. Bukannya targetmu pengen dapet cewek tahun ini?"

"Entahlah... Tak ada yang memenuhi tipe idealku selain kau. Lagi pula rasanya aku sudah tak ada minat. Entah kenapa fikiranku tertuju pada Taemin sedari kemarin."

"Taemin? Oh... si kecil yang manis itu? Kabarnya dia kecelakaan seminggu lalu. Benarkah? Gimana keadaannya?"

"Ah, kau ini cerewet sekali sih." Aku mulai merasa risih di lempari pertanyaan yang bertubi-tubi ini."Dia sudah pulang. Hanya saja kondisinya masih lemah."

"Hey, jangan-jangan kau cinta padanya ya?"

"Apaan sih kau ini? Aku hanya menyayanginya seperti adik kok. Ga lebih." Aku sendiri tak yakin dengan jawabanku ini karena akhir-akhir ini rasanya ada perasaan yang menyusup begitu saja di hatiku. Aku takut membuat kesimpulan. Aku tidak yakin. Bukankah kami sama-sama lelaki? Yah, meski Taemin itu lebih cantik dari pada perempuan pada umumnya. "Sudah ah... aku pulang duluan."

"Loh kenapa? Gak main bareng dulu?"

"Hari ini Jonghyun ada les piano. Umma dan Appa kayaknya ga bakalan pulang buat ngerayain ulangt tahun pernikahan mereka. Kasihan kalau Taemin yang masih sakit itu sendirian di rumah."

"Tuh kan.. ujung-ujungnya Taemin. Fikirkan baik-baik..."

"Ah, terserah kau saya!" Kulempar surat cinta yang sedari tadi ada di genggaman tanganku ke arah wajah Nichkhun kemudian berlalu meninggalkannya.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"Aku pulang...!!!"

"Ah,,, kau baru pulang hyung." Taemin menyambutku dengan senyum yang begitu manis. Dia pun mengekoriku seperti anak anjing yang imut sekali. Aku terdiam sejenak kemudian berbalik dan memeluk tubuh mungilnya.

"Yah.. aku kangen..." Taemin hanya tersenyum sambil melepaskan diri dari pelukanku.

"Kau aneh hyung. Bukankah setiap hari kita berjumpa?"

"Ya. Tapi entah kenapa aku begitu kangen padamu." Taemin masih pasang tampang bingung padaku. "Ah, sudahlah, ayo makan, perutku lapar. Umma sudah masakkan?" Kataku sambil menarik lengannya menuju arah ruang makan.

"Ah, ia hyung. Aku juga sudah lapar sedari tadi."

Sesampainya di ruang makan, Taemin bertanya padaku. "Hyung, umma dan appa kemana sih?"

"Mereka lagi kencan. Yah, siap-siap aja ada member baru di SHINee..."

"Kencan? Kenapa kencan bisa bikin member baru? SM mau nambahin sapa hyung?"

Aku tertawa sindiri mendengar pertanyaan baliknya itu.

"Yah... kau akan tau sendiri kalau sudah besar." Taemin hanya cemberut.

"Aku sudah besar hyung!"

"Ha ha ha... sudahlah,lanjutkan saja makanmu!"

Taemin hanya mengangguk pelan. Sepertinya ia masih tak terima ku sebut masih kecil. Tapi yah... makan malam hari ini memang cukup mewah karena dibuat oleh umma yang sedang riang hatinya. Apa lagi makan malam ini bisa kunikmati berdua saja dengan Taemin. Tunggu dulu... Berdua? AH, ada apa ini? Kurasakan detak jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Apa yang salah dengan diriku? Tiba-tiba saja aku merasa gugup tak menentu. Kupercepat makanku dan segera kucuci piringku supaya Taemin tak menyadari kegugupanku.

Setelah usai makan, kami berdua masuk kamar. Entah karena capek atau memang badannya masih lemah, Taemin langsung tertidur pulas. Aku belum merasa ngantuk. Jadi kuputuskan untuk mengulang pelajaran yang diajarkan tadi. Inginya sih belajar, tapi aku justru bergelut dengan perasaanku sendiri. Aku mulai menyadari perasaan yang kupunya kepada Taemin.

"Ugh... ugh..." Tiba-tiba saja kudengar suara erangan Taemin. Aku langsung berlari ketempatnya.

"Ada apa?" Taemin terus mengerang kesakitan. Betapa terkejutnaya aku saat kulihat punggung Taemin mengeluarkan banyak darah dari bekas jahitan saat kecelakaan kemarin. Aku panik. Aku bingung harus bagaimana.

"Aku pulang..." TIba-tiba saja kudengar suara Jonghyun hyung yang baru saja pulang dari les. Tanpa pikir panjang aku langsung menggendong tubuh mungil Taemin dan berjalan cepat menuju Jonghyun.

"Hyung!!! Bantu aku! Taemin... Taemin... ah.. anu.. darah..." Kata-kataku kacau saking paniknya. Namun kurasa Jonghyun dapat mengerti situasinya saat melihat Taemin yang dipenuhi banyak darah.

"Tenanglah, ayo kita bawa ke rumah sakit. Biar aku yang bawa mobilnya."

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Aku tertunduk lesu di depan UGD. Tempat dimana Taemin sedang diperiksa saat ini. Aku merasa hembusan angin begitu dingin menusuk. Apa lagi samar-samar tercium bau obat yang rasanya menyesakkan.

"Minho... tenanglah... Taemin pasti baik-baik saja. Aku sudah telpon umma dan appa. Mereka akan segera kemari." Jonghyun hyung coba menenangkanku sambil menepuk pundakku. Tapi aku hanya diam. Aku tak tahu harus berkata apa. Saat ini otakku tak mampu berfikir dengan jernih.

Beberapa saat kemudian, kulihat dari kejauhan umma Key dan appa Jinki berlari kearah kami. Saat sudah sampai tepat di depan kami, umma langsung melontarkan pertanyaan dengan nada yang begitu khawatir.

"Bagaimana? Bagaimana keadaan Taemin?"

"Iya. Bagaimana?" Sahut appa.

"Ah.. ehm.. entahlah, dokter masih memeriksanya." Jonghyun menjawab pertanyaan mereka. Sementara aku hanya berdiam diri saja. Lidahku terasa kelu.

Tidak lama kemudian sang dokter keluar. Dan langsung diserbu oleh pertanyaan kami yang intinya sama.

"Bagaimana keadaan Taemin?"

"Eh..Ah...Iya." Dokter itu tampaknya sedikit bingung karena tiba-tiba saja langsung diiserbu oleh kami berempat. "Keadaannya baik-baik saja. Hanya saja, ada beberapa jahitannya yang terlepas. Namun kami sudah memperbaikinya kembali. Apakah sebelunya dia melakukan gerakan yang terlalu berlebihan sebelumnya?"

Aku coba mengingat-ingat.

"Ah... mungkinkah dia latihan dance? Bukankah dia bilang ia tak bisa merasa senang kalau sehari tidak melatih gerakkannya?" Jonghyun menjawab

"ya..ya...mungkin saja. karena tadi kulihat ada beberapa CD MJ yang berserakan di depan TV" sahutku.

"Jadi, apa kami boleh masuk?" Key umma sepertinya merasa belum tenang kalau belum melihat Taemin secara langsung.

"Oh, iaboleh-boleh saja. Asal jangan bikin kegaduhan yang membuat pasien lainnya terbangun."

Kami kompak mengangguk dan bergegas memasuki ruangan tersebut.

"Umma, Appa, Hyung..."

"Nak, kau baik-baik saja? Makanya, jangan latihan dance dulu sebelum kau sembuh benar. Untuk sementara waktu CD dan segala macam tentang MJ mama SITA!!!" Mulai deh cerewetnya umma satu ini.

"Umma..."Taemin memelas.

"Sudahlah, biarkan saja. Jangan disita. Kasihan kan? Asal jangan latihan dance itu saja sudah cukup kan sayang?" Appa merasa tak tega pada Taemin dan coba merayu umma. "Kau sudah tak apa kan?"

Taemin menganggu. "Ya sudah, kibum ah~ Biar anak-anak ini saja yang menjaga Taemin. Kita lanjutkan saja yang tadi."

Wajah umma bersemu. Senyum yang penuh arti terkembang di bibirnya, "Ya. Jonghyun, Minho, Jaga Taemin baik-baik ya!"

"Ya..." jawab kami serempak.

Umma dan Appa pun pergi meninggalkan kami.

"Minho, aku cari makan dulu ya, aku belum sempat makan malam tadi." Jonghyun berkata sambil menepuk-nepuk perutnya yang sepertinya sudah tak kuat lagi menahan lapar.

"Ya." Jawabku singkat.

Kini tinggal aku dan Taemin.

"Hyung, maaf sudah merepotkan."

"Tak masalah."

Pembicaraan selesai. Aku bingung harus bicara apa lagi padanya. Tiba-tiba saja muncul ide gila diotakku untuk menanyakan perasaannya padaku.

"Taemin, apakah kau suka padaku?"

"Ya"

"Kalau pada Changmin?"

"Ya. Aku juga suka."

Aku sedikit emosi.

"Siapa yang paling kau sukai?"

Taemin dengan polosnya menjawab "MJ!"

"Ah, maksutku, diantara kami berdua."

Taemin diam sesaat.

"Tentu saja hyung. Lagi pula dari pada semua member SHINee, aku paling sayang padamu!" Taemin berkata dengan ceria.

Senyum penuh kepuasan muncul di wajahku. Aku merasa senang karena aku sedikit lebih unggul dari salah seorang personil DBSK dan member SHINee lainnya. Yah, meski aku masih kalah jauh dari arwah MJ -_-;; Namun rasanya aku bahagia sekali.

"Aku juga suka dan sayang padamu" Aku mendekatkan wajahku dengan wajahnya. Ku kira Taemin akan semakin bingung dengan tindakanku, namun siapa sangka ternyata dia paham maksutku. Ia memejamkan matanya dan mendekatkan wajahnya padaku. Aku kaget sekaligus gembira.

Tapi sayang sekali, saat bibir kami hampir menyatu, tiba-tiba saja Jonghyun datang. "Sial" fikirku.

"Apa yang akan kalian lakukan heh?" tanyanya dengan nada yang sangar.

"Ah, tidak hyung... kami..." Taemin mencoba memberi penjelasan dengan gugup.

"Ah, hyung sudah selesai makan ya? Kalau begitu aku pulang dulu mengambil baju ganti buat hyung." aku pun coba mengalihkan perhatiannya.

"Ehm, yah... aku masih pakai seragam. Tolong ya."

"Ya"

Sebelum meninggalkan ruangan tersebut aku menatap Taemin sambil tersenyum kecil. Taemin pun balas tersenyum padaku.

Ah.... ternyata aku ini memang aneh suka pada seorang Taemin. Tapi biarlah, biar ini jadi rahasia kami berdua saja.

-END-