[FF/Oneshot/Yaoi]It's Friday

 Annyeong, akhirnya Bisa post FF lagi... 0z, makasih banyak buat semuanya yg udah dukung Lian. Do'ain biar lolos mauk Univ Negri yak ^^ At least, have a nice read and don't forget to leave some comment to me^^ 

Title :  It's Friday
Author : lian 1412
Cast : SHINee

++Kibum POV++
Today is Friday, dengan riang gembira aku berangkat menuju stasiun kereta api. Hari masih teramat pagi, tapi aku sudah duduk di kursi tunggu yang terletak di peron stasiun. Kereta pagi akan segera tiba. Rasanya berdebar-debar sekali menunggu kedatangannya. Kereta pun datang. Satu persatu penumpang turun. Mataku dengan jeli mencari sosoknya. Tapi nihil. Aku masuk kedalam kereta, menelusuri gerbong demi gerbong yang ada untuk mengecek satu demi satu bangku yang ada barang kali ia tertidur disana. Ah.. Jinki memang suka ceroboh. Kakiku terus berjalan dari gerbong paling depan hingga gerbong paling belakang. NIHIL. Aku turun dari kereta, dan kereta mulai berjalan kembali. "Ah... mungkin kereta berikutnya." Aku kembali duduk di peron stasiun menunggunya.


++End of Kibum POV++
---------------------------
++Jonghyun POV++
"Huuuaaaaaem.." Aku menguap lebar-lebar dan mengeliat malas. Kepalaku terasa pening dan perutku mual. Aku berjalan gontai menuju ruang tengah dan mendapati ruangan yang telah bersih kembali seusai pesta semalam meski samar-samar masih tercium aroma bir yang membuat kepalaku terasa semakin pening. "Ah, Kibum sudah bangun ternyata" kataku lirih. Aku yakin Kibum yang telah membereskan semuanya. Karna memang tak ada orang lain yang tinggal disini selain aku dan Kibum setelah orang tua kami tiada 5 tahun silam.
'Kruyuk' terdengar bunyi aneh dari perutku yang menandakan cacing sudah mulai menari kelaparan.Dengan langkah yang gontai dan kepala yang terasa berat sehabis minum-minum semalam aku beranjak menuju meja makan. Kudapati meja makan itu begitu rapi dan bersih tanpa satu makanan apa pun. Pandangan mataku kemudian beralih ke arah lemari es. Sayang, di dalamnya tak ada suatu apa pun juga. Dengan tampang kecewa aku kembali ke ruang tengah dan menghempaskan badanku di sofa.
'Even though it seems I have everything....I don't wanna be a lonely fool.' Handphoneku berdering. Aku sebera merogoh saku celanaku dan mendapatkannya.
All of the women, all the expensive cars, all of the money don't amount to you.' Nama Minho berkedip di layar handphoneku.
"Yoboseyo.. Yah! Minho yah! Waeyo?"
"Yoboseyo.. Hyung... Aku cuma ingin bertanya, apa kau baik-baik saja?"
"Tentu saja aku baik. Aku masih hidup."
"Aniyo.. maksutku bukan itu hyung. Ini 'kan hari Jum'at, pasti hari yang berat untuk hyung. Pasti belum sarapan kan? Ke rumahkulah. Bantu aku menghabiskan masakan Taemin. Hari ini dia masak banyak untukku."
"Ahhh... Ne. Aku segera kesana." Aku menutup ponselku. Hari Jum'at... Pantas saja Kibum hari ini tidak memasak untukku. Selalu saja Jinki yang jadi prioritas utamanya selama 2tahun ini. Mengalah, bersabar, dan menahan rasa cemburu yang bercampur dengan cinta. "Hah... Kibum ah.. kenapa kau tak bisa lupakan saja Jinki itu?" Ali mendesah perlahan kemudian beranjak bersiap menuju rumah Minho. 2 tahun... Selama 2 tahun ini, sama sekali tak ada perkembangan untuk kisah cintaku. Aku memang begitu naif.

..::: ~Flash BacK~:::..
“Jinki ah.. aku ingin bilang sesuatu padamu.”
“Ne. Katakan saja.”
“er.. mungkin ini akan terdengar sedikit aneh, tapi maukah kau jadi pacarku? Saranghamnida Jinki ah” Buliran kata lembut dan mesra meluncur begitu saja dari bibir mungil kemerahan milik pujaan hatiku disambut dengan sebuah anggukan kecil, pelan tapi mantap oleh seorang namja yang tersenyum cerah di seberang sana telah sukses membuat hatiku retak. Aku hanya mampu memandang sendu tubuh pemuda bernama Jinki itu merengkuh tubuh pujaan hatiku dengan begitu eratnya dari kejauhan. Aku mendengus kesal kemudian beranjak dari tempat itu menuju rumah. Meninggalkan sepasang kekasih yang sedang dibakar api asmara yang begitu membaranya.
++End of Jonghyun POV++
++Kibum POV++


Pagi yang cerah. Pagi yang indah untuk bercinta. Seulas senyum kecil tersungging dibibirku saat kupandangi wajahku yang terpantul di cermin. Setelah puas dengan penampilanku, aku berjalan keluar dari kamarku dan menggedor pintu kamar Jonghyun yang terletak di sebelah kamarku.
”Jonghyun ah... aku mau pergi! Apa kau masih tertidur pulas? Jonghyun ah!!! Yah! Dasar pemalas. Aku berangkat!” Aku pun melenggang pergi seolah tanpa dosa setelah menggugurkan kewajibanku untuk membangunkan teman serumahku. Lebih tepatnya disebut, teman yang telah baik hati menampungku di rumahnya setelah kematian kedua orang tuaku 5 tahun silam.Dia memang orang yang pemalas, suka usil, akan tetapi ia orang yang baik hati. Bahkan kini aku kuliah dengan biaya darinya yang bekerja sebagai seorang part timer.
++End of Kibum POV++
++Jonghyun POV++
”Jonghyun ah... aku mau pergi! Apa kau masih tertidur pulas? Jonghyun ah!!! Yah! Dasar pemalas. Aku berangkat!” Aku mendengar teriakkan Kibum dari luar kamarku, tapi aku hanya diam membisu untuk meredam rasa cemburu yang berkecamuk agar tak membuatku hilang kendali. Dari jendela kamar kulihat ia sedang menutup pagar rumah. Dia telah pergi. Ia pergi menemui kekasih tercintanya.
Aku bangkit keluar dari kamarku yang suram dan berjalan gontai menuju meja makan dan mendapati meja makan yang bersih tanpa ada sesuatu apa pun di atasnya. ”Aish, lagi-lagi begini” desahku kesal. Lima bulan setelah Kibum dan teman kuliahnya yang bernama Lee Jinki menjalin hubungan hal seperti ini sering sekali terjadi. Kibum yang biasa menghabiskan waktu paginya di dapur kini lebih suka berkacak pinggang di depan cermin besar yang terletak di kamarnya setiap ada janji kencan dengan Jinki sialan itu.
Aku meraih gagang telepon dan menelpon ponsel teman mainku, Choi Minho yang juga merupakan rekan satu universitas Kibum.
”yoboseyo...”
”Yoboseyo, Minho yah! Ini aku Jonghyun. Kau ada di rumah?”
”Aniyo. Sekarang aku sedang di tempat Taemin. Waeyo hyung?”
”Disana ada makanan?”
”Hm? Tentu saja ada hyung. Ini aku sedang menyuapi Taemin yang susah makan.”
”Ne. Aku kesana sekarang.”
”Hah? Ada apa hyung? Bukannya pagi ini hyung harus kerja?”
”Biar. Aku malas.”
”Eh hyung, tapi sebentar lagi aku berangkat kuli...”
Tut tut tut... telpon ku tutup.
Aku tak peduli dengan segalanya saat ini. Yang kupedulikan saat ini hanyalah aku lapar dan butuh makan segera. Aku terus berlari sambil membayangkan masakan apa yang sedang tersaji di meja makan Taemin saat ini.

--------------------------------------------------------------------------------
Hari yang cerah kini telah berganti menjadi malam yang begitu dingin dengan iringan rintikan hujan yang masih saja terus berjatuhan. Jalanan pun nampak begitu sunyi karna air hujan yang tak jua enggan tuk berhenti mengalir. Orang-orang lebih memilih tidur dan berdiam diri di dalam rumah, bergelung dengan selimutnya yang hangat seperti aku saat ini. Aku membalut diriku dengan selimut tebal milik Kibum sembari duduk di kursi dekat jendela sambil sesekali menyeruput secangkir kopi hangat yang baru saja kuseduh. Aku terus mengawasi jalanan yang becek di luar dari balik kaca jendela menanti si empunya selimut yang kukenakan ini pulang. Hatiku terasa gelisah dan tak tenang menunggu kepulangannya di hari yang semakin larut ini.

Sepintas aku melihat bayangan seorang namja yang tertunduk lesu membiarkan hujan menerpa dirinya di luar. Aku merasa begitu kaget setlah mampu mengenali namja tersebut. Aku pun bergegas keluar dari buntalan selimut kemudian dengan terburu-buru mengenakan jaket tebal lalu menyambar payung dan berlari kearah luar rumah menghapiri namja yang masih berdiri terpatung dijalanan itu. Menyadari kehadiranku, namja yaang sedari tadi terdiam itu berlari memeluk tubuhku sambil menangis meraung-raung. Sementara aku masih terdiam tak mengerti.
”Jonghyun ah... Jinki.. Jinki pergi... Dia pergi...”
”Tenanglah Kibum ah... Ceritakan dengan baik di dalam. Kalau begini terus kau bisa sakit.” Aku dengan berat melepas pelukannya dan mengarahkannya masuk ke dalam rumah.
++End of Jonghyun POV++
++Kibum POV++
Seluruh tubuhku berguncang hebat dalam pelukan Jonghyun. Tangisku makin menjadi-jadi sesampainya di dalam rumah. Jonghyun melepaskan pelukannya dan mengajakku duduk di dekat perapian yang hangat.
”Kibum ah... minumlah dulu barang sedikit.” Jonghyun menyodorkan secangkir kopi. Cangkir itu tak terisi penuh. Sepertinya dia telah meminumnya sedikit. Kuedarkan pandangan ke sekitar. Tepat di meja dekat jendela, kudapati beberapa cangkir kosong bekas kopi dan selimut yang tergeletak tak beraturan di sebelahnya. Nampaknya Jonghyun telah berdiam lama disana. Jonghyun telah lama menungguku. Aku terharu dan mengusap air mataku. Dengan hati-hatia aku menerima cangkir kopi hangat itu dan meneguknya sedikit. ”Apa kau sudah sedikit tenang?” Jonghyun menepuk pelan pundakku, dan aku pun mengagguk tak kalah pelannya.
”Jonghyun ah... Jinki ah ... dia.. dia pergi... dia pergi. Si bodoh itu meninggalkanku begitu saja. Dia ke Incheon.”
”Incheon? Itu masih dekat dengan Seoul bukan? Kau tak perlu khawatir. Seoul-Incheon hanya perlu naik kereta sudah sampai.”
”Iya, Seoul Incheon memang dekat. Masalahnya adalah, dari Incheon dia naik pesawat ke Aussie.”
”Mwo? Aussie?”
”Ne.”
”Tapi dia pasti kembali ’kan?” aku mengangguk pelan. ”Memangnya dia mau tinggal disana sampai kapan dan buat apa sih?”
”Seminggu, Jum’at depan dia kembali. Dia bilang dia kesana buat njenguk eumma sama appanya yang tinggal disana.” Mendengar jawabanku, Jonghyun justru tertawa terbahak-bahak.
”Yah! Kibum ah.... itu bukan waktu yang lama bukan.”
”Tapi tetap saja dia pergi!”
“Ah sudahlah. Rugi aku mengkhawatirkanmu sedari tadi hanya untuk mendengarkan kisah cengeng yang konyol seperti ini.”
“Jonghyun ah, kau tak mengerti seberapa besarnya aku mencintainya. Aku tak bisa hidup sehari tanpa dirinya.”
“Yah! Aku memang tak mengerti seberapa besar perasaanmu itu dan apa yang kau rasakan saat ini, tapi selama ini kau pikir aku ini apa? Apa tak bisa kau hidup meski hanya ada aku. Bukankah selama ini aku yang menemanimu dari jauh hari sebelum kau mengenal Jinki? Kau... Ah, sudahlah. Aku mau tidur.”
Aku begitu kaget dan bingung mendengar perkataan Jonghyun itu.
++End of Kibum POV++
++Jonghyun POV++
“Yah! Aku memang tak mengerti seberapa besar perasaanmu itu dan apa yang kau rasakan saat ini, tapi selama ini kau pikir aku ini apa? Apa tak bisa kau hidup meski hanya ada aku. Bukankah selama ini aku yang menemanimu dari jauh hari sebelum kau mengenal Jinki? Kau... Ah, sudahlah. Aku mau tidur.”
Entah bagaimana ceritanya aku hilang kendali. Aku memaksakan kehendakku, aku memaksakan perasaanku, aku memaksakan egoku padanya. Kibum ah, ini semua karna aku tak tahan lagi memendam rasa ini.
..:::~End of Flas Back~:::..
++Kibum POV++
Sinar matahari makin terik. Dari peron yang teduh ini aku dapat melihat dengan jelas rel yang terbuat dari besi kokoh itu nampak mulai berkaratan di beberapa sisi karna di telan usia. Rel yang terus menerus disinari matahari itu nampak begitu panas jika tersentuh oleh tangan ini. Sementara itu angin yang berhembus sedikit kencang terus menerus merusak tatanan rambut yang telah kutata sedari pagi tadi. Angin nakal ini terus mengacak rambutku seperti yang Jinki lakukan padaku dulu. Dulu sekali setiap kami belajar bersama dan aku tak berhasil memecahkan soal logaritma ataupun limit, dulu sekali setiap masakanku berhasil menarik simpatinya padaku, dulu sekali saat kami berjalan bersama menuju kampus, dulu sekali saat ia belum pergi meninggalkan kota ini, dia sering melakukannya. Tangan kanan yang lembut memegang kepala ini dan membuat rambutku berantakan

Hari makin gelap, hembusan angin terasa makin kencang mengacak rambutku. Aku masih disini, aku menunggu kedatangannya. Kulihat untuk kesekian kalinya kereta itu tiba. Aku bangkit dari tempat dudukku dan melakukan pola yang sama seperti yang kulakukan tadi pagi. Mengecek satu persatu penumpang yang turun dan mengecek setiap gerbongnya sebelum kereta itu berangkat kembali. Hasilnya tetap saja nihil dan aku pun terduduk kembali di bangku yang sama.
’Pluk’ Rasa hangat terasa di punggungku saat seseorang telah sukses mendaratkan jaket tebalnya ke punggungku.
”Kau pasti kedinginan bukan?” terdengar suara namja dari arah belakang. Aku segera berbalik dengan penuh semangat dan memeluk namja itu.
”Jinki ah! Aku tahu kau pasti datang.” Namja itu menyambut pelukanku dengan hangat.
”Yah, ayo kita pulang.” Pulang? Aku merasa sedikit ganjil dan melepas pelukanku padanya, kemudian menatap lekat-lekat sang pemilik suara indah itu, suara serak seperti punya Jinki, namun ini berbeda. Suara ini begitu kuat.
”Jonghyun.” aku nampak kecewa telah mengira sobatku ini adalah Jinki kekasihku.
++End of Kibum POV++
++Author POV++
”Hari sudah makin larut Kibum ah, ayo pulang.” Jonghyun menarik lengan Kibum, namun Kibum menangkisnya.
”Tapi.. Jinki... Dia belum datang. Dia bilang akan datang. Dia sudah janji padaku, dia akan datang hari Jum’at. Ini masih hari Jum’at Jonghyun ah.”
”Kibum ah, sadarlah! Ia tak akan datang. Barusan itu kereta terakhir.”
”Aish,. Iya juga ya. Ah, tapi mungkin dia lupa. Dia pasti akan datang Jum’at depan bukan?”
”Aniyo. Harusnya kau yang paling mengerti Kibum ah. Lee Jinki, tak akan pernah datang. Baik Jum’at depan atau pun seterusnya.”
”Ani.. kenapa kau sebutkan kata itu? Bukankah biasanya kau bilang ne dan kita pulang dengan tenang?”
”Tapi Kibum ah, kau harus sadar. Kau tak bisa seperti ini terus menerus. Ini sudah hari Jum’at ke 92. sudah hampir dua tahun kau menunggu kedatangannya. Sudahilah semua tingkah konyol yang sia sia ini, dan relakanlah kepergiannya Kibum ah...”
”Tapi, dia bilang dia pasti datang, dia tak pernah ingkar janji padaku.”
“Tapi kenyataannya berbeda. Tuhan berkehendak lain. Dia sudah tak mungkin sanggup tepati janji itu. Dia sudah tiada.Dia telah pergi, dan tak mungkin kembali lagi.”
”Aniyo!”
”Ne. Lee Jin Ki telah tiada. Dia sudah mati Kibum ah!”
”Ani...” Kibum merunduk dan meneteskan air matanya. Jonghyun memeluknya hati-hati dan berbisik lembut.
”Kibum ah.... ayolah.. aku tahu kau namja yang kuat dan begitu tegar dalam hadapi segala cobaan berat. Tenanglah, ada aku disini.” Bukannya tenang, tapi Kibum justru menangis makin menjadi-jadi.
”Semuanya telah diambil dari sisiku. Semua orang yang kusayang. Kalau begitu kenapa Tuhan tak ambil aku saja sekalian?”
’Plak’ Jonghyun menampar pipi lembut Kibum.
”Jangan bilang kau ingin mati! Ada aku, Minho, dan Taemin yang juga menyayangimu. Bukalah matamu lebar-lebar Kim Kibum ah! Kau tak pernah sendirian di dunia ini! Hidupmu itu begitu berarti, bagi kami... bagiku, aku yang mencintaimu!”
”Kau...”
’Bugh’ kata-kata Kibum terpotong karna pukulan keras dari belakang yang mengena tepat di tengkuknya. Kibum ambruk tepat di pelukan Jonghyun.
”Mianh...” Jonghyun berbisik lirih.
”Hyung... kau tak perlu minta maaf. Harusnya aku yang minta maaf. Maaf aku datang telat. Harusnya aku segera datang dan membuatnya pulang dengan lebih tenang lebih cepat.” Choi Minho muncul tepat di balik punngung Kim Kibum yang terjatuh, dia yang telah memukulnya. Tak jauh dari tempat Choi Minho berdiri, terlihat sosok namja mungil yang mengenakan jaket kedodoran nampak sedikit menggigil kedinginan. Jonghyun terdiam sejenak kemudian berusaha membopong tubuh Kibum dengan susah payah.”Perlu bantuan hyung?”
”Aniyo. Biar kubawa pulang sendiri anak manja satu ini. Kau antar saja Taeminniemu itu.” Meski dengan langkah perlahan, tapi Jonghyun sukses membawa Kibum masuk ke dalam mobilnya dan berlalu menuju rumahnya, rumah mereka berdua.
----------------------------------
It’s Friday May, 28 2010 in Seoul at 8.20 am.
Semua kenangan manis terbayang kembali. Kenangan saat seorang namja bernama Lee Jinki masih hiduo mengisi hari-hariku. Aku sadar semuanya harus berlalu, tapi ada perasaan sayang akan kenangan-kenangan itu. Aku seolah takut menghadapi masa depan dan masa kini karena masa lampau begitu nikmatnya.
‘tok tok tok’
“Kibum ah.. aku masuk ya.” Jonghyun memasuki kamar Kim Kibum dan meletakkan secangkir kopi hangat di meja belajar. “Kau sedang menulis apa?”
“Aish, aniyo. Hanya sedang coret-coret saja.”
“Baguslah, kukira kau sedang buat surat wasiat. Kalau sedang nulis surat wasiat aku mau titip pesan, tolong warisan buatku yang banyak ya.”
“Mwo? Yah! Kim Jonghyun ah! Kalau pun aku mati, kau tak akan dapat jatah sepeser pun dariku.”
”Kok gitu? Aku kan orang yang paling sayang padamu di dunia ini.”
”Yah! Bagaimana bisa aku kasih harta warisan, segala kebutuhanku saja kau yang penuhi.”
”Hah... Oh iya Kibum ah, aku, Minho, dan Taemin hendak pergi ke taman bermain. Kau mau ikut?”
”Taman bermain? Taman hiburan maksutmu?”
”Ne. Mumpung aku lagi tak ada kerja dan mereka tak ada kuliah. Kau mau ikut?”
”Boleh, tapi aku mau selesaikan menulisku sebentar.”
”Yep. Kutunggu di depan.” Jonghyun keluar dari kamar Kibum dan Kibum pun melanjutkan tulisannya.
Dear Lee Jinki...
Aku rasa, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan yang biru. Ah.. aniyo. Maksutku dengan hidup yang penuh warna. Kim Jonghyun, seperti yang biasa aku ceritakan padamu Jinki ah, dia begitu penuh warna dan kurasa ia akan mulai mewarnai hidupku. Hidupku yang baru.
”Kibum ah! Cepat!” terdengar suara Minho, Taemin dan Jonghyun berteriak bersamaan di luar. Kibum cepat-cepat berdandan dan tak lupa menyeruput sedikit kopi yang dibawakan oleh Jonghyun, namun kemudian Kibum menyemburkan kembali kopi yang telah berada di dalam mulutnya dan bergegas keluar.
”Kim Jonghyun ah! Apa kau sengaja meletakkan garam pada kopiku?” Jonghyun tak menjawab, ia hanya tersenyum nakal kemudian menarik Taemin pergi.
”Hyung! Kau bawa kemana Taemin ku!” Minho pun berlari mengejar Jonghyun bersama Kibum. Mereka terus berlari dan saling kejar hingga tiba di taman bermain dengan penuh tawa. Wajah yang penuh kemenangan terpancar dari Minho dan Kibum, sementara Taemin bingung harus berbuat apa melihat Jonghyun yang tengah babak belur usai tertangkap dan dihajar habis-habisan oleh Minho dan Kibum.

~=-END-=~